Media Internasional Soroti Keracunan Massal MBG, Singgung Reformasi Program Pemerintah

Kamis, 03 September 2026 | 08:15 WIB
Badan Gizi Nasional (BGN) pusat turun ke Sidoarjo untuk menginvestigasi SPPG Kalitengah setelah ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). [beritajatim.com]
  • Lebih dari 500 santri dan siswa di Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis pada Selasa lalu.
  • Badan Gizi Nasional langsung membekukan operasional dapur penyedia katering selama 30 hari dan menyelidiki sampel makanan tersebut.
  • Sejumlah media internasional menyoroti insiden ini serta tantangan tata kelola dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program nasional tersebut.

Suara.com - Insiden keracunan massal yang menimpa ratusan santri dan siswa di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mendadak menjadi perhatian dunia.

Sejumlah media internasional terkemuka—seperti Reuters, Channel NewsAsia (CNA), Media Selangor, hingga Asia News Network—secara masif menyoroti kasus keracunan yang diduga berasal dari santapan program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG).

Laporan pers asing tersebut menggarisbawahi dampak kesehatan pada anak-anak serta menyoroti berbagai tantangan tata kelola dalam pelaksanaan program nasional bernilai miliaran dolar tersebut.

Ratusan Siswa Dirawat dan Dapur Penyedia Dibekukan

Dalam pemberitaannya, media asing menyoroti bahwa lebih dari 500 siswa di Sidoarjo harus dilarikan ke sejumlah rumah sakit usai mengonsumsi jatah makan siang pada Selasa lalu. Pejabat Badan Gizi Nasional (BGN), Ketut Sumedana, mengonfirmasi bahwa setidaknya 512 siswa mengalami gejala keracunan, di mana puluhan di antaranya masih memerlukan perawatan medis intensif.

"Fokus utama kami saat ini adalah menyelamatkan kesehatan anak-anak kita yang dirawat di beberapa rumah sakit," ujar Ketut Sumedana dalam keterangan resminya.

Sebagai langkah penanganan awal, Badan Gizi Nasional telah membekukan operasional dapur penyedia makanan (dapur komunal/SPPG) yang diduga menjadi sumber penyebab keracunan selama 30 hari.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, juga mengonfirmasi bahwa dapur tersebut bertanggung jawab atas penyediaan katering ke pondok pesantren terkait. Investigasi sampel makanan saat ini sedang berlangsung untuk memastikan penyebab pasti insiden.

Sorotan Internasional Terhadap Implementasi dan Reformasi MBG

Sorotan media internasional tidak hanya tertuju pada insiden teknis di lapangan, melainkan juga pada gambaran besar pelaksanaan program MBG secara nasional.

Media luar negeri mengutip data lembaga pengawas independen Network for Education Watch yang mencatat telah terjadi puluhan ribu kasus dugaan keracunan makanan yang terhubung dengan rantai pasok program ini dalam beberapa bulan terakhir.

Aparat dan pihak berwenang menyebut faktor kesalahan penyimpanan bahan baku serta keterlambatan distribusi makanan matang sering kali menjadi pemicu utama penurunan kualitas hidangan.

Selain itu, pemberitaan asing menyoroti langkah reformasi yang sedang gencar dilakukan oleh kepemimpinan baru Badan Gizi Nasional.

Lembaga tersebut dilaporkan telah menindak tegas dan menutup ratusan dapur penyedia yang terbukti melanggar standar kualitas dan higienitas sanitasi.

Atensi media global ini menegaskan perlunya pengawasan rantai pasok dan standar keamanan pangan yang jauh lebih ketat demi menjamin keselamatan jutaan anak penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com