- Riset Jepang menguji 56 parameter kualitas udara dari penggunaan HTP.
- Hanya 6-9 parameter meningkat dalam kondisi restoran dan hunian.
- Parameter yang meningkat masih di bawah ambang batas paparan publik.
Suara.com - Penelitian terbaru dari Jepang mengungkap temuan terkait penggunaan produk tembakau yang dipanaskan atau heated tobacco product (HTP) terhadap kualitas udara di dalam ruangan. Riset tersebut menemukan bahwa penggunaan HTP hanya memengaruhi sebagian kecil parameter kualitas udara yang diuji.
Temuan itu tertuang dalam penelitian berjudul Effect of the Use of a Heated Tobacco Product on Indoor Air Quality in Environmentally-Controlled Chamber yang dipublikasikan dalam jurnal Aerosol and Air Quality Research pada 9 April 2026.
Dalam penelitian tersebut, Katsunari Fujisawa bersama tim mengevaluasi perubahan kualitas udara di dalam ruangan ketika produk tembakau yang dipanaskan digunakan pada suhu maksimum 320 derajat Celcius dan menghasilkan aerosol.
Peneliti mengukur sebanyak 56 parameter kualitas udara dalam ruang uji yang dibuat menyerupai kondisi restoran dan hunian. Parameter yang diamati antara lain karbon monoksida, karbon dioksida, senyawa organik volatil, partikulat, logam, amonia, propilen glikol, gliserol, serta berbagai senyawa lainnya.
Hasilnya, penggunaan HTP meningkatkan enam parameter dari 56 parameter yang diuji pada kondisi yang menyerupai restoran. Sementara pada kondisi yang menyerupai hunian, terdapat sembilan parameter yang mengalami peningkatan.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan produk tembakau yang dipanaskan hanya menyebabkan peningkatan pada sebagian kecil parameter kualitas udara," tulis peneliti dalam studi tersebut, dikutip Senin (7/9/2026).
Peneliti kemudian membandingkan konsentrasi parameter yang mengalami peningkatan dengan batas paparan yang ditetapkan sejumlah lembaga kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan di Jepang serta Amerika Serikat.
Hasil perbandingan menunjukkan konsentrasi parameter yang mengalami peningkatan masih berada di bawah ambang batas paparan yang ditetapkan oleh berbagai otoritas terkait.
"Untuk parameter-paramater yang meningkat secara signifikan, dapat dikonfirmasi bahwa konsentrasinya masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan berbagai lembaga publik," tulis peneliti.
Menurut peneliti, riset tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan kualitas udara dalam ruangan ketika produk tembakau yang dipanaskan digunakan. Data tersebut juga dapat menjadi dasar untuk memahami karakteristik emisi HTP serta upaya menjaga kualitas udara dalam ruangan.
Temuan dari Jepang turut memperkaya penelitian mengenai produk tembakau alternatif yang berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan preferensi konsumen.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Anugerah Widianto, menilai perkembangan teknologi di sektor tembakau perlu diikuti dengan penelitian ilmiah yang memadai. Menurutnya, kajian berbasis risiko penting untuk menjadi dasar dalam melihat perkembangan berbagai inovasi produk tembakau.
"Regulasi yang disusun berdasarkan tingkat risiko produk dan didukung oleh kajian ilmiah yang kuat akan menjadi fondasi yang penting dalam pengelolaan industri hasil tembakau di masa depan," ujar Anugerah.
Dia juga menilai dialog antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, peneliti, dan masyarakat perlu diperkuat untuk membangun pemahaman yang lebih seimbang mengenai inovasi di sektor tembakau.
Menurut Anugerah, penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan akan memperluas basis bukti ilmiah mengenai karakteristik dan profil risiko berbagai produk tembakau alternatif, termasuk produk tembakau yang dipanaskan.
"Makin banyak penelitian yang dilakukan, makin lengkap pula informasi yang tersedia untuk membantu konsumen dan pembuat kebijakan memahami karakteristik serta profil risiko berbagai produk tembakau alternatif, termasuk produk tembakau yang dipanaskan," pungkasnya.