- Pemerintah mewaspadai kenaikan harga beras akibat musim kemarau kering yang menyebabkan minimnya produksi padi petani.
- Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan harga beras mulai naik tipis karena terganggunya keseimbangan pasokan dan permintaan pasar.
- Pemerintah menambah pasokan beras SPHP medium sebanyak satu juta ton untuk mengantisipasi masa paceklik hingga awal 2027.
Suara.com - Pemerintah mewaspadai kenaikan harga beras di tengah musim kemarau panjang yang membuat produksi padi petani mulai berkurang.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, mengatakan, kondisi kemarau tahun ini berbeda dibandingkan tahun lalu.
Pada 2025, Indonesia mengalami kemarau basah sehingga petani masih bisa menanam padi hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut membuat pasokan beras dari petani tetap tersedia di pasar. Namun, situasi berubah pada tahun ini karena musim kemarau berlangsung lebih kering.
"Kalau tahun lalu kita kemarau basah. Kemarau basah itu bulan-bulan ini sampai Desember masih ada hujan, sehingga kita masih bisa tanam padi, jadi di pasaran masih ada suplai dari petani," kata Zulhas kepada wartawan, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, petani masih produksi beras karena masih bisa nanam. Tapi tahun ini kering, tidak ada, hampir tidak ada lagi sawah petani yang produksi, yang kita sebut paceklik atau gadu apa namanya ya.
"Jadi enggak ada produksi," imbuhnya.
Menurut pria yang akrab disapa Zulhas itu, minimnya produksi padi saat musim paceklik berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan dan permintaan beras di pasar.
Kondisi tersebut kemudian berisiko mendorong harga beras naik. Zulhas mengatakan, kenaikan harga beras mulai terlihat meski masih dalam kisaran Rp100 hingga Rp200.
"Oleh karena itu, karena supply and demand tidak ada produksi, pasti harganya naik. Ada naik Rp100, Rp200," ujarnya.
Untuk mengantisipasi kenaikan harga lebih lanjut, pemerintah memutuskan menambah pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebanyak 1 juta ton.
Beras bersubsidi tersebut akan digelontorkan ke pasar untuk menjaga pasokan selama periode paceklik yang diperkirakan berlangsung hingga awal masa panen pada 2027.
"Nah, untuk merespons itu, maka kami baru saja rapat memutuskan kita tambah suplainya untuk beras subsidi yang kita kenal dengan SPHP. SPHP medium," kata Zulhas.
Ia mengatakan, tambahan pasokan dilakukan agar kenaikan harga beras di pasar dapat kembali ditekan. Beras SPHP medium dijual dengan harga sekitar Rp12.000 hingga maksimal Rp12.500 per kilogram.
"Kita tambah 1 juta lagi, agar harga yang di pasar yang turun naik 100-200 rupiah itu bisa kita turunkan kembali," ujarnya.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menambahkan, tambahan 1 juta ton beras SPHP tersebut disiapkan untuk menghadapi periode minim panen.
Bulog sebelumnya mengajukan tambahan alokasi sebesar 400.000 ton untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. Namun, pemerintah memutuskan menaikkan alokasi menjadi 1 juta ton karena Januari dan Februari 2027 juga belum memasuki masa panen.
"Di bulan Januari, bulan Februari itu kan belum ada panen. Kan belum ada panen, panen nanti di bulan Maret. Oleh karena itu, yang usulan kami dari 400 dilipatgandakan menjadi 1 juta," ucap Rizal.