-
Kapal Virgo Transport 8 membawa 243 orang hilang kontak di perairan Laut Jawa.
-
Basarnas Banjarmasin dan Kansar Palu menyiagakan personel serta KN SAR Baladewa 238.
-
Tim SAR gabungan memprioritaskan keselamatan penumpang di sekitar 80 mil dari Dermaga Basirih.
Suara.com - Operasi penyisiran massal di perairan Laut Jawa langsung bergulir usai Kapal Virgo Transport 8 mendadak hilang kabar. Keselamatan sebanyak 243 jiwa yang berada di dalam lambung kapal menjadi pertaruhan utama operasi penyelamatan ini.
Keadaan darurat tersebut memicu pengerahan armada penyelamat dari pelbagai daerah untuk merapat ke titik koordinat terakhir. Langkah cepat ini menjadi krusial demi memperbesar peluang menyelamatkan ratusan nyawa yang terjebak di tengah lautan.
Kansar Palu mengomandoi kesiapan armada udara dan lautnya guna menunjang pergerakan tim SAR gabungan. Penyiapan logistik serta alut penunjang dilakukan tanpa menunda waktu sembari menunggu komando dari pusat.
"Untuk sementara tim Kantor SAR terdekat yang bergerak terlebih dahulu. Sesuai arahan Kepala Kantor SAR Palu kami siap ikut membantu apabila mendapat perintah dari Basarnas pusat," kata Juru Bicara Kantor SAR Palu Fatmawati dihubungi di Palu, Minggu.
Kesiapsiagaan penuh terpantau di zona pesisir Sulawesi Tengah untuk merespons dinamika pencarian di perairan Jawa. Kesiapan ini mencakup pengerahan kapal penyelamat utama yang bersandar di dermaga militer.
Begitu pun KN SAR Baladewa 238 telah disiagakan di Pelabuhan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Palu di kawasan Teluk Palu.
"Logistik Kantor SAR Palu sudah siap. Kami menunggu perkembangan selanjutnya," ujarnya.
Daya jangkau pencarian memusat pada jalur pelayaran komersial yang menghubungkan Pulau Jawa dan Kalimantan. Armada penyeberangan tersebut mengangkut ratusan penumpang saat mendadak tak dapat dihubungi petang hari.
Gelombang laut ekstrem serta cuaca buruk mencegat pelayaran kapal rute Surabaya menuju Banjarmasin tersebut. Petugas mengonfirmasi bahwa navigasi kapal terputus secara misterius pada Minggu dini hari.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin selaku SAR Mission Coordinator I Putu Sudayana mengatakan kapal tersebut dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 Wita, setelah sebelumnya menghadapi kondisi cuaca buruk dalam perjalanan.
“Posisi terakhir kapal yang diterima berada sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin,” katanya.
Informasi marabahaya ini pertama kali bertiup dari pihak pengelola armada kapal penyeberangan. Laporan resmi masuk ke meja petugas beberapa jam usai sinyal pemancar kapal terhenti.
Pengelola mengabarkan armada mereka bertolak dari dermaga keberangkatan Surabaya sejak Sabtu (12/9) pukul 10.13 GMT. Tim penyelamat langsung bertindak cepat begitu memvalidasi data manifestasi penumpang.
Prioritas tertinggi petugas kini tertuju pada keselamatan seluruh jiwa di atas kapal penumpang tersebut. Seluruh potensi SAR lokal dan instansi maritim dikerahkan penuh menyisir titik koordinat terakhir.
Kondisi meteorologi di sekitar perairan pencarian dipantau secara berkala guna mengantisipasi perubahan cuaca susulan. Koordinasi antarlembaga makin diperketat agar penyisiran berjalan efektif dan terukur.
“Kami mengimbau masyarakat dan keluarga penumpang tetap tenang serta menunggu informasi resmi dari petugas, tim SAR gabungan terus melakukan pemantauan dan pencarian berdasarkan perkembangan situasi di lapangan,” ujar Putu Sudayana.
Sebagai latar belakang, insiden hilangnya kapal angkutan penumpang di lintasan Laut Jawa kerap dipicu oleh perubahan cuaca mendadak dan gelombang tinggi. Laut Jawa merupakan salah satu koridor pelayaran tersibuk di Indonesia yang menghubungkan hub logistik Jawa dan Kalimantan.
Pengawasan ketat serta kesiapan sarana SAR antar-wilayah menjadi kunci utama dalam merespons darurat maritim skala besar seperti ini. Operasi pencarian masih terus berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur SAR gabungan dari Banjarmasin hingga Palu.