- UMKM makin bergantung AI untuk promosi hingga melayani pembeli.
- Ketergantungan platform memicu kekhawatiran keamanan data seller dan buyer.
- Meta janji patuhi aturan Indonesia dan lindungi data pribadi pengguna.
Suara.com - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin masif di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai memunculkan persoalan baru. Di balik kemudahan teknologi untuk mendukung promosi hingga melayani konsumen, pelaku usaha juga menghadapi risiko ketergantungan terhadap platform teknologi serta keamanan data pribadi.
AI kini semakin banyak digunakan UMKM untuk membuat konten pemasaran, mencari calon konsumen hingga merespons pertanyaan pembeli. Ketergantungan tersebut berpotensi membuat aktivitas bisnis pelaku usaha kecil semakin bergantung pada perusahaan teknologi yang menyediakan platform dan layanan berbasis AI.
Kekhawatiran terutama muncul terkait data seller dan buyer yang digunakan dalam aktivitas bisnis digital. Semakin banyak aktivitas usaha yang dialihkan ke platform digital, semakin besar pula data pelaku usaha dan konsumen yang berpotensi masuk ke dalam ekosistem teknologi.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Meta Indonesia menegaskan bahwa produk dan layanannya tunduk pada berbagai aturan yang berlaku di Indonesia, termasuk ketentuan mengenai perlindungan data pribadi.
Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Meta Indonesia Berni Mustafa mengatakan perusahaan berkomitmen menjaga data pribadi yang berkaitan dengan aktivitas pelaku usaha maupun konsumen.
"Secara garis besar saya bisa sampaikan bahwa tentu produk-produk kami dan layanan kami akan tunduk pada peraturan di Indonesia. Termasuk terkait sama perlindungan data pribadi," kata Berni dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Ia juga memastikan Meta tidak akan menyalahgunakan data pribadi yang digunakan oleh pelaku usaha dan konsumennya.
"Jadi kami tentunya tidak akan menyalahgunakan data-data pribadi dari seller maupun dari buyer," ujarnya.
Meski demikian, persoalan tidak hanya berhenti pada komitmen perusahaan teknologi. Masifnya penggunaan AI juga dapat menciptakan kesenjangan baru apabila UMKM tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami teknologi, mengelola data, maupun mengantisipasi risiko keamanan digital.
Di sisi lain, Meta melihat pemanfaatan AI sebagai peluang untuk mempersempit kesenjangan teknologi antara perusahaan besar dan UMKM. Berni mengatakan perusahaan besar selama ini memiliki keunggulan karena didukung sumber daya manusia, keahlian dan modal yang lebih kuat untuk mengadopsi teknologi terbaru.
"Kami ingin pastikan adalah ada demokratisasi dari penggunaan teknologi yang kami miliki. Sehingga tidak hanya perusahaan besar saja yang memanfaatkan," tuturnya.
Menurut Berni, UMKM juga perlu mendapatkan akses terhadap teknologi agar mampu meningkatkan daya saing. Terlebih, pelaku usaha di negara lain semakin agresif memanfaatkan AI untuk mendukung kegiatan pemasaran dan penjualan.
"Nah, tentunya kami juga melihat bahwa negara lain juga menggunakan teknologi yang sama. Sehingga juga ada yang mesti kita perhatikan juga adalah bahwa Indonesia tidak ketinggalan, UMKM Indonesia tidak ketinggalan," pungkasnya.