- OJK melalui Muhammad Rizki F Purnomo meminta industri PayLater menerapkan pengelolaan risiko secara hati-hati pada Kamis, 10 September 2026, di Jakarta.
- Outstanding pembiayaan Buy Now Pay Later OJK mencapai Rp13,62 triliun dengan peningkatan sebesar 54 persen secara tahunan per Juli 2024.
- Pertumbuhan jumlah pengguna layanan PayLater meningkat hingga mencapai total 26,64 juta rekening pada tahun 2024.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta industri Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater tidak asal menyalurkan kredit di tengah pertumbuhan layanan pembiayaan digital yang semakin pesat.
Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan OJK, Muhammad Rizki F Purnomo, mengatakan pertumbuhan industri PayLater harus tetap diimbangi dengan pengelolaan risiko yang baik.
Pasalnya, kemudahan akses kredit berpotensi menjadi bumerang jika perusahaan terlalu longgar dalam menyalurkan pembiayaan.
"Saya berharap peningkatan jumlah ini juga diimbangi dengan pengelolaan risiko yang baik. Saat ini kalau kita lihat NPL-nya masih di level 3,03 persen. Jadi masih sangat kecil ya, tapi jangan terus jadi gampang menyalurkan, itu akan backfire kita percaya ya," ujar Rizki dalam peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Ia berharap, industri BNPL dapat terus meningkatkan penyaluran pembiayaan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
"Jadi kita sangat berharap Buy Now Pay Later, ya khususnya Kredivo bisa meningkatkan lagi penyaluran pembiayaannya," katanya.
Menurut Rizki, pertumbuhan tersebut menunjukkan layanan PayLater semakin diterima oleh masyarakat. Namun, perusahaan tidak boleh menjadikan pertumbuhan pengguna dan penyaluran pembiayaan sebagai satu-satunya target.
"Ini sudah satu prestasi yang sangat bagus, pertumbuhan yang cukup besar, tetapi peluang juga masih sangat besar Bapak/Ibu," ujarnya.
Berdasarkan data statistik OJK yang dipaparkan Rizki, outstanding BNPL per Juli 2024 mencapai Rp13,62 triliun atau meningkat 54 persen secara tahunan.
Jumlah pengguna BNPL juga terus bertambah hingga mencapai 26,64 juta rekening pada 2024 atau meningkat 9,32 juta rekening.
OJK mencatat porsi pembiayaan BNPL terhadap total baki debet industri perusahaan pembiayaan masih sebesar 2,45 persen. Rizki menilai angka tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan PayLater masih terbuka lebar.
Meski begitu, perluasan pembiayaan tetap harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan kualitas kredit dan kemampuan pembayaran pengguna.
"Cuma ada catatan satu, total porsi bagi debitur BNPL terhadap total baki debit pembiayaan masih di 2,45 persen. Masih sangat kecil ya. Ini peluang sebenarnya untuk industri BNPL untuk menambah porsinya," pungkasnya.