- Studi LD FEB UI di Jakarta, Kamis (10/9/2026), menunjukkan PayLater dimanfaatkan untuk kebutuhan mendesak dan sehari-hari.
- Sebanyak 54 persen kredit Kredivo digunakan untuk modal usaha, pendidikan, renovasi rumah, serta sektor kesehatan.
- OJK mengingatkan perusahaan penyedia layanan PayLater agar selalu menyeimbangkan pertumbuhan pengguna dengan pengelolaan risiko yang baik.
Suara.com - Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) dalam studinya mengungkapkan pengguna Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater bukan hanya untuk gaya hidup, tetapi sebagai kebutuhan mendesak.
Dalam Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo, sebanyak 32 persen pengguna memanfaatkan layanan kredit digital untuk memenuhi kebutuhan yang membutuhkan penanganan cepat. Sementara penggunaan terbesar tetap untuk kebutuhan sehari-hari.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI Paksi Walandouw mengatakan kredit digital memberikan akses pembiayaan yang dapat digunakan ketika masyarakat menghadapi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
"Jadi ini yang penting bahwa, penting bagi masyarakat untuk tahu kalau ada kebutuhan yang mendesak itu bisa dipenuhi cuma saat ini. Nah, itu yang buat kami menjadi salah satu dampak yang baik dari Kredivo," kata Paksi dalam peluncuran laporan tersebut di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, kemudahan mengakses kredit digital membuat masyarakat memiliki pilihan pembiayaan ketika menghadapi kebutuhan mendadak. Layanan tersebut juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan lain, termasuk kebutuhan sehari-hari.
Paksi mengatakan pemanfaatan kredit digital tidak hanya terbatas pada kebutuhan konsumtif. Dalam studi yang sama, LD FEB UI mencatat 54 persen kredit yang disalurkan melalui Kredivo digunakan untuk kebutuhan produktif.
Penggunaannya antara lain untuk modal usaha, pendidikan, renovasi rumah hingga kebutuhan kesehatan.
"Jadi kita lihat bahwa 48 persen modal usaha, tetap ada dana pendidikan, renovasi rumah, dan kesehatan," ungkapnya.
Kredit digital juga disebut memiliki peran penting ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 92 persen pengguna mengaku menggunakan Kredivo selama pandemi COVID-19.
Sementara 85 persen pengguna setuju layanan kredit digital membantu mereka mengelola pengeluaran di tengah kondisi krisis.
"Yang kita inginkan adalah pembiayaan baik. Kredivo itu ketika ekonomi baik dia bisa membantu UMKM dan konsumsi, tapi ketika ekonomi buruk dia juga bisa menjadi buffer yang baik untuk masyarakat," kata Paksi.
Meski demikian, penggunaan PayLater tetap harus disertai dengan kemampuan membayar dan pengelolaan keuangan yang baik.
Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muhammad Rizki F. Purnomo sebelumnya juga mengingatkan pertumbuhan industri BNPL harus diimbangi dengan pengelolaan risiko.
Ia meminta perusahaan penyedia PayLater tidak terlalu mudah menyalurkan pembiayaan demi mengejar pertumbuhan pengguna.
"Saya berharap peningkatan jumlah ini juga diimbangi dengan pengelolaan risiko yang baik," kata Rizki.