Beli Rumah Tak Cukup Modal Niat, Cicilan Harus Disesuaikan Penghasilan

Kamis, 10 September 2026 | 19:16 WIB
Ilustrasi rumah dan tren properti regional [Suara.com/Linktown Property]
  • Secara umum, kemampuan cicilan berada di kisaran 30 persen dari penghasilan, namun tetap harus disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing calon debitur.
  • Calon pembeli perlu memperhitungkan biaya hidup, transportasi, dan cicilan agar kepemilikan rumah tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari.
  • Melalui Bale Properti, calon nasabah dapat mencari hunian, melakukan simulasi pembiayaan, mengajukan KPR, hingga memantau proses pengajuan dan persetujuan.

Suara.com - Memiliki rumah bukan sekadar perkara menemukan hunian yang sesuai keinginan. Bagi calon pembeli, terutama generasi muda, kemampuan membayar cicilan menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam Hari Properti Nasional (Harpropnas) Fest 2026 yang digelar pada 8-13 September 2026 di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta.

Di tengah kebutuhan hunian, calon pembeli kini tidak hanya perlu menentukan lokasi dan jenis rumah. Mereka juga harus menghitung kemampuan finansial agar cicilan tidak membebani pengeluaran sehari-hari.

SEVP Digital Business PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Thomas Wahyudi mengatakan, masyarakat perlu melihat kemampuan finansial sebelum memutuskan mengambil pembiayaan rumah.

Ilustrasi perumahan/KPR. [Antara]

"Di sini konsumen, Gen Z, milenial bisa punya opsi yang sangat leluasa. Dari mencari rumah idaman sampai melihat kemampuan finansialnya," ujar Thomas di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut Thomas, kemampuan membeli rumah tidak bisa dilepaskan dari berbagai pengeluaran lain yang harus ditanggung calon debitur. Mulai dari biaya hidup, transportasi hingga cicilan rumah.

Secara umum, kemampuan cicilan dapat berada di kisaran 30 persen dari penghasilan. Namun, besaran tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing calon debitur.

Artinya, keinginan memiliki rumah perlu diimbangi dengan perhitungan kemampuan membayar. Calon pembeli juga perlu memastikan cicilan tidak mengganggu kebutuhan rutin maupun kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Pertimbangan kemampuan finansial tersebut kini juga mulai terintegrasi dengan proses pencarian rumah.

BTN bersama Rumah123 mengembangkan pendekatan online-to-offline dan offline-to-online yang memungkinkan masyarakat mencari hunian sekaligus mendapatkan informasi mengenai pembiayaan.

"Masyarakat dapat melakukan simulasi pembiayaan secara digital maupun berkonsultasi secara langsung dengan petugas BTN. Kalau Gen Z biasanya digital savvy, mereka bisa menggunakan layanan online. Tapi kalau ingin bertemu langsung, kami juga punya cabang dan service center," kata Thomas.

Melalui balé by BTN, calon nasabah dapat mengakses fitur Bale Properti yang mencakup pencarian hunian dan simulasi pembiayaan. Layanan tersebut juga memungkinkan pengguna mengajukan KPR serta memantau proses pengajuan hingga persetujuan.

Thomas mengatakan, pengembangan layanan tersebut dilakukan dengan melihat perubahan kebutuhan masyarakat, bukan hanya berdasarkan produk yang dimiliki perbankan.

"Kami membangun bukan dari product centric, tetapi dari customer need. Kebutuhannya apa, dari situ kami membangun," katanya.

Dengan pendekatan tersebut, proses membeli rumah tidak lagi hanya berangkat dari pencarian properti. Calon pembeli juga dapat mempertimbangkan kemampuan pembiayaan sejak awal sebelum menentukan pilihan hunian.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com