- Indeks Harga Saham Gabungan merosot ke level 6.526 akibat tekanan jual pada awal perdagangan Jumat.
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan indeks berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menguji level support berikutnya.
- Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mencapai Rp235,6 triliun hingga Juli dengan ruang fiskal memadai.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terpeleset jatuh ke zona merah pada awal perdagangan, Jumat, 11 September 2026. IHSG merosot ke level 6.552.
Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 09.06 WIB, IHSG masih betah memerah dengan turun 0,96 persen ke level 6.526.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 4,15 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp1,80 triliun serta frekuensi sebesar 224.130 kali.
Di waktu itu, terdapat 116 saham menghijau, sedangkan, 462 saham merosot. Sisanya, 385 saham masih belum bergerak alias stagnan.
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- POLA
- SHID
- ESTI
- FOLK
- BAJA
Top Loser
- UDNG
- LUCY
- NATO
- CBUT
- PPRI
Proyeksi IHSG
IHSG diproyeksikan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini. Secara teknikal, indeks berpeluang menguji level 6.525 setelah ditutup melemah cukup dalam pada perdagangan sebelumnya.
IHSG ditutup di level 6.589,34 pada Kamis (10/9/2026), turun 1,33 persen. Padahal, indeks sempat menguat hingga menyentuh level 6.712.
Analis Phintraco Sekuritas melihat tekanan teknikal masih membayangi pergerakan IHSG. Pasalnya, IHSG telah ditutup di bawah level moving average (MA) 5 dan MA10.
Selain itu, indikator MACD dan Stochastic RSI juga membentuk pola Death Cross. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih berpotensi berlanjut.
Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan akan menguji level MA20 di 6.525. Jika level tersebut ditembus ke bawah, indeks berpeluang melanjutkan pelemahan menuju area support berikutnya di 6.400-6.460.
Phintraco Sekuritas menetapkan level resistance IHSG pada 6.700, pivot 6.600, dan support 6.500 untuk perdagangan Jumat.
Dari sisi fiskal, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp235,6 triliun atau sekitar 0,91 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Juli 2026.
Pada periode yang sama, belanja negara mencapai Rp1.969 triliun atau tumbuh 18,62 persen secara tahunan.
Phintraco Sekuritas menilai pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup memadai karena target defisit APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen dari PDB.
Meski demikian, risiko fiskal perlu diperhatikan apabila harga minyak bertahan pada level tinggi dalam waktu lama. Kondisi tersebut, ditambah dengan pengelolaan anggaran yang tidak efisien, dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN.
Untuk perdagangan hari ini, Phintraco Sekuritas memilih sejumlah saham sebagai top picks, yakni MAPI, MNCN, MYOR, ASII, dan ADRO.