Suara.com - Pasar aset kripto Indonesia menunjukkan perkembangan positif sepanjang Agustus 2026. Berdasarkan laporan bulanan CFX, penguatan tercermin dari pergerakan Indeks CFX10 yang meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Pada awal Agustus, indeks berada di level 752,49 dan kemudian bergerak naik hingga mencapai titik tertinggi 961,77 pada 28 Agustus 2026.
Menjelang akhir bulan, Indeks CFX10 mengalami koreksi dan berada di level 932,74. Meski demikian, indeks tetap berhasil mencatat kenaikan sebesar 23,95% dibandingkan bulan sebelumnya. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pasar aset keuangan digital di Indonesia tetap berada dalam momentum yang positif selama Agustus.
Penguatan pasar juga terlihat dari meningkatnya volume perdagangan. Di pasar spot, volume transaksi yang tercatat di CFX mencapai Rp17,6 triliun selama periode 1–31 Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 16% secara bulanan dibandingkan bulan sebelumnya. Secara year-to-date hingga Agustus 2026, volume perdagangan pasar spot telah mencapai Rp175,4 triliun.
Sementara itu, pasar derivatif mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Volume perdagangan derivatif pada Agustus mencapai Rp5,98 triliun, atau meningkat 50% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif hingga Agustus 2026, volume perdagangan derivatif tercatat sebesar Rp35,7 triliun.
Dari sisi aktivitas perdagangan, beberapa aset kripto menjadi kontributor utama volume di pasar spot. Tether (USDT), Bitcoin (BTC), dan Ethereum (ETH) tercatat sebagai aset dengan volume perdagangan terbesar selama Agustus. Di pasar derivatif, kontrak BTCUSDT-PERP, ETHUSDT-PERP, WLDUSDT-PERP, SOLUSDT-PERP, dan PUMPUSDT-PERP menjadi kontrak dengan volume perdagangan terbesar.
Pergerakan positif pasar pada Agustus juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Berdasarkan laporan CFX, program obligasi pemerintah Amerika Serikat yang melemahkan dolar turut mendorong rotasi dana menuju aset berisiko, termasuk aset kripto. Momentum tersebut diperkuat oleh arus dana masuk atau inflow ke spot Bitcoin ETF yang disebut menjadi yang terbesar sepanjang 2026.
Optimisme pasar juga berkaitan dengan perkembangan positif arah CLARITY Act yang memperoleh dukungan dari White House. Namun, sentimen pasar kemudian berubah menjelang akhir Agustus. Pidato Ketua The Fed Warsh di Jackson Hole dinilai hawkish sehingga memberikan tekanan terhadap harga aset kripto pada penghujung periode.
Di luar perkembangan perdagangan, Bursa Kripto CFX juga menjalankan berbagai agenda untuk memperkuat ekosistem aset keuangan digital Indonesia. Salah satunya melalui CFX Cryptalk Vol. 2.0: "Synergy for Integrity". Forum tersebut mempertemukan penyelenggara infrastruktur bursa, kliring, dan kustodian (BKK), anggota Bursa CFX, OJK, serta Komisi XI DPR RI. Agenda ini diarahkan untuk meningkatkan standar tata kelola, transparansi, dan integritas pasar aset keuangan digital.
CFX juga memperkuat dukungan terhadap inovasi melalui kerja sama dengan lima startup kripto syariah binaan Menara Syariah, yakni DynastyCapital, Orbitum, AriesTech, Asyah, dan Peksindo. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan sektor keuangan digital berbasis syariah yang tengah menempuh regulatory sandbox OJK.
Pada sisi keberlanjutan, Bursa Kripto CFX bersama KKI, ICC, dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) menjalankan program CSR "Building Lasting Reef Systems" di Bali. Program pelestarian terumbu karang tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap perlindungan keanekaragaman hayati laut Indonesia.
Dengan kombinasi peningkatan volume perdagangan, penguatan indeks, serta berbagai inisiatif di bidang tata kelola, inovasi, edukasi, dan keberlanjutan, Agustus 2026 menjadi periode yang cukup dinamis bagi pasar kripto Indonesia. Bursa Kripto CFX terus mengambil peran dalam mendukung perkembangan ekosistem aset digital nasional, sembari tetap mengedepankan kepatuhan dan penguatan infrastruktur pasar. ***