MBG Ikut Dongkrak Harga Pangan, Pedagang Pasar Mulai Tertekan

Selasa, 15 September 2026 | 15:49 WIB
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya menjadi sorotan karena persoalan pelaksanaan dan kualitas makanan. Di tingkat pasar tradisional, program andalan pemerintah ini mulai diduga ikut memberi tekanan terhadap harga sejumlah bahan pangan. Foto Fika Nur Rizki-Suara.com
  • MBG diduga ikut mengerek harga sejumlah bahan pangan di pasar.
  • Pedagang beras mengaku omzetnya turun lebih dari separuh.
  • Kenaikan harga membuat konsumen harus membeli beras dalam jumlah besar.

Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya menjadi sorotan karena persoalan pelaksanaan dan kualitas makanan. Di tingkat pasar tradisional, program andalan pemerintah ini mulai diduga ikut memberi tekanan terhadap harga sejumlah bahan pangan.

Dugaan tersebut muncul dari pengalaman pedagang dan konsumen di Pasar Deprok Cipinang Muara. Salah satunya disampaikan Yayat, pedagang beras yang sudah lebih dari tujuh tahun berjualan di pasar tersebut.

Menurut Yayat, harga sejumlah bahan pangan sempat turun ketika program MBG libur selama sekitar dua pekan. Namun, harga kembali naik setelah program berjalan.

"Kemarin pas MBG libur dua minggu, minyak sama ayam langsung turun ke Rp21 ribu-Rp22 ribu. Begitu MBG jalan lagi, naik lagi," ujar Yayat kepada Suara.com, Selasa (15/9/2026).

Ia mengaku melihat pola tersebut dari aktivitas perdagangan sehari-hari. Meski demikian, pengamatan tersebut merupakan pengalaman pribadi satu pedagang dan belum dapat menggambarkan kondisi pasar secara keseluruhan.

Selain MBG, Yayat menyebut kenaikan harga beras dipengaruhi kemarau panjang yang membuat sebagian sawah kekurangan air dan petani mengalami kendala tanam.

Ia juga menilai kebijakan pemerintah yang lebih mengandalkan produksi beras dalam negeri, termasuk kenaikan harga pembelian gabah dari petani, ikut berdampak pada harga beras di tingkat pedagang.

Kondisi tersebut membuat usaha Yayat ikut tertekan. Ia mengaku omzet penjualannya kini turun lebih dari separuh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Harus pintar-pintar nyesuain, kalau ambil untungnya kegedean, pembeli bisa langsung pindah ke tempat lain," katanya.

Tekanan harga juga dirasakan pada komoditas lain seperti kacang tanah dan tepung yang menurut Yayat banyak bergantung pada bahan impor. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar disebut turut membuat harga komoditas tersebut semakin mahal.

Di tengah kondisi itu, Yayat mengaku belum merasakan adanya program bantuan atau pasar murah pemerintah yang secara langsung menyentuh pedagang di lapaknya.

Keluhan serupa datang dari Irma, salah satu konsumen. Untuk mengurangi beban akibat kenaikan harga, ia memilih membeli beras dalam jumlah besar sekaligus.

"Kalau beli kiloan atau literan itu mahal, makanya saya belinya satu karung, 20 kilo, buat sebulan," ujar Irma.

Menurut dia, harga beras tahun ini terasa lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menduga kenaikan harga BBM turut meningkatkan ongkos distribusi yang kemudian dibebankan ke harga jual.

Irma juga menduga pedagang atau tengkulak menaikkan harga lebih awal sebagai langkah antisipasi. Namun, dugaan tersebut belum dikonfirmasi langsung kepada pedagang maupun distributor.

Yang menarik, Irma juga menilai pembelian bahan pangan dalam jumlah besar untuk kebutuhan MBG berpotensi ikut mendorong harga.

"MBG itu kadang belinya bisa satu truk, apalagi kalau sudah kedengeran mau ada kenaikan, dia borong duluan buat jaga-jaga," katanya.

Reporter: Fika Nur Rizki

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com