Bisnis Waralaba RI Tembus Rp143 Triliun, Tumbuh 10-15% per Tahun

Rabu, 16 September 2026 | 16:06 WIB
Ilustrasi franchise / waralaba (shutterstock)
  • Bisnis waralaba RI tembus Rp143 triliun dan tumbuh 10-15% per tahun.
  • F&B, jasa, dan ritel menjadi penopang utama bisnis waralaba.
  • Investor diminta cek legalitas, outlet, balik modal, dan dukungan pemilik merek.

Suara.com - Bisnis waralaba atau franchise di Indonesia terus berkembang. Nilai usaha sektor ini kini telah menembus lebih dari Rp143 triliun dengan pertumbuhan rata-rata 10-15% per tahun.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) sekaligus Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Franchise, Networking dan E-Commerce, Levita G. Supit, mengatakan pertumbuhan bisnis waralaba ditopang oleh kemitraan antara pemilik merek dan mitra usaha.

Menurut dia, industri makanan dan minuman, jasa, serta ritel masih menjadi sektor yang menopang perkembangan bisnis waralaba di Indonesia.

"Waralaba tumbuh karena kepercayaan, dan kepercayaan dibangun lewat pertemuan langsung. Di FLEI, calon mitra bisa berbicara dengan pemilik merek, bertanya, membandingkan, dan memastikan bisnis yang dipilih memiliki legalitas yang jelas," ujar Levita kepada wartawan, Rabu (16/9/2026).

Besarnya nilai bisnis tersebut membuat waralaba menjadi salah satu pilihan ekspansi usaha melalui skema kemitraan. Peluangnya juga tidak hanya menyasar investor bermodal besar, tetapi tersedia bagi pelaku usaha pemula melalui beragam paket investasi.

Salah satu ajang yang mempertemukan pemilik merek dengan calon mitra adalah Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) Business Show 2026. Pameran edisi ke-27 tersebut akan digelar pada 9-11 Oktober 2026 di Nusantara International Convention & Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta.

Ratusan merek dari berbagai sektor akan ditampilkan dalam pameran tersebut. Pilihan investasi yang ditawarkan beragam, mulai dari paket usaha untuk pemula hingga peluang kemitraan dengan skala investasi lebih besar.

Calon mitra dapat membandingkan besaran investasi, dukungan operasional, hingga prospek bisnis dari masing-masing merek sebelum menentukan pilihan.

Project Manager FLEI Business Show, Rulief Harjianto, mengatakan pameran tahun ini tidak hanya diarahkan sebagai ajang promosi merek, tetapi juga untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra dan investor.

"Kami ingin pengunjung pulang bukan hanya membawa brosur, tapi juga kontak dan peluang kerja sama yang nyata," kata Rulief.

Selain pasar domestik, peluang ekspansi waralaba juga diarahkan ke pasar regional. FLEI Business Show 2026 akan menghadirkan International Business Summit yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan pebisnis dari Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Thailand.

Forum tersebut menjadi sarana bagi pelaku usaha untuk mengenali karakter pasar negara lain sekaligus membuka peluang kerja sama lintas negara.

Pameran FLEI juga digelar bersamaan dengan Cafe & Brasserie Expo (CBE) serta Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE). Ketiga ekosistem tersebut memperluas peluang kemitraan, mulai dari bisnis franchise dan pemasok kuliner hingga jejaring korporasi.

Sementara itu, Franchise Consultant dari Franchise Academy Indonesia, Evi Diah Puspitawati, mengingatkan calon investor agar tidak hanya mempertimbangkan besaran modal ketika memilih bisnis waralaba.

Calon mitra perlu mengecek usia bisnis, jumlah outlet, periode balik modal, dukungan pemilik merek, serta kinerja outlet yang telah berjalan.

"Legalitas usaha dan transparansi sistem juga menjadi dua aspek yang perlu diperiksa sejak awal," ujarnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com