- Kebutuhan listrik KEK Sei Mangkei mencapai 74 MW.
- Energi hijau baru memasok sekitar 10 persen kebutuhan listrik.
- PLTS 3 MWp ditargetkan beroperasi awal Oktober 2026.
Suara.com - Kebutuhan listrik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas industri. Saat ini, kebutuhan listrik kawasan tersebut mencapai sekitar 74 megawatt (MW), sementara pembangkit energi terbarukan baru mampu memasok sekitar 10 persen kebutuhan.
Area Manajer Operasi Regional Sumatera Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) Rein Nasution mengatakan pasokan energi terbarukan yang disalurkan ke kawasan tersebut mencapai sekitar 7,4 MW. Sumbernya berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
"Pasokan yang bisa kami penuhi untuk kawasan ini kurang lebih 10 persen, itu gabungan dari PLTBg dan PLTS," kata Rein di KEK Sei Mangkei, Simalungun, Sumatera Utara, Rabu (23/9/2026).
Kebutuhan listrik kawasan meningkat seiring bertambahnya jumlah pabrik yang beroperasi. Saat ini terdapat 34 industri yang menjalankan kegiatan produksi di KEK Sei Mangkei.
Salah satu sumber listrik hijau berasal dari PLTBg Sei Mangkei yang telah beroperasi sejak Januari 2020 dengan kapasitas 2 x 1,2 MW atau total 2,4 MW. Pembangkit ini memanfaatkan limbah cair industri kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dari pabrik kelapa sawit PTPN III.
Volume POME yang dimanfaatkan mencapai sekitar 790 meter kubik per hari. Limbah tersebut dialirkan melalui pompa bawah tanah sepanjang sekitar 300 meter menuju fasilitas pembangkit.
Sejak beroperasi hingga Mei 2026, PLTBg Sei Mangkei telah menghasilkan hampir 50 juta kWh listrik. Tingkat keandalan peralatan pembangkit mencapai 96,43 persen, sementara tingkat gangguan atau outage tercatat hanya 0,03 persen.
Dari sisi bisnis, PLTBg tersebut menghasilkan pendapatan rata-rata sekitar Rp1,3 miliar per bulan.
Selain biogas, Pertamina NRE juga mengembangkan PLTS di kawasan tersebut. PLTS Sei Mangkei tahap pertama berkapasitas 2 MWp dan mulai beroperasi pada Agustus 2021. Tingkat keandalan peralatan pembangkit ini mencapai 98,74 persen.
Pertamina NRE kini tengah menyelesaikan pembangunan tambahan kapasitas PLTS sebesar 3 MWp. Pembangkit tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada awal Oktober 2026.
Penambahan kapasitas ini diproyeksikan meningkatkan pendapatan PLTS dari sekitar Rp300 juta menjadi Rp600 juta per bulan.
Pengembangan pembangkit energi terbarukan di KEK Sei Mangkei dilakukan melalui skema Build, Operation, and Transfer (BOT) antara Pertamina dan PTPN III. Masa pengelolaan berlangsung selama 10 tahun sebelum aset pembangkit dikembalikan kepada PTPN.
Dalam skema tersebut, sistem kelistrikan dijalankan secara on grid. Pertamina NRE menjual listrik kepada PTPN III sebagai pemegang wilayah usaha penjualan listrik, sebelum listrik didistribusikan kepada para tenant di kawasan.
Harga jual listrik kepada tenant berada di kisaran Rp1.237 per kWh sesuai dengan regulasi Dewan Kawasan KEK.
Dengan tambahan PLTBg dan PLTS, pasokan listrik KEK Sei Mangkei kini berasal dari tiga sumber, yakni PLN, pembangkit biogas, dan pembangkit surya. Namun, dengan kebutuhan mencapai 74 MW, porsi energi terbarukan sekitar 10 persen menunjukkan ruang ekspansi pembangkit hijau masih terbuka seiring pertumbuhan industri di kawasan tersebut.