Harga Minyak Dunia Stabil, Pasokan Timur Tengah Mulai Pulih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:40 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia [Shutterstock]
BACA 10 DETIK
  • Brent naik 14% sepanjang September, tertinggi sejak Juli.
  • Ekspor minyak Timur Tengah pulih, tapi masih 3,2 juta bph di bawah Februari.
  • Stok solar AS menipis, harga tembus rekor US$6,53 per galon.

Suara.com - Harga minyak dunia bergerak stabil dalam perdagangan Asia, Kamis (1/10/2026), setelah menguat pada sesi sebelumnya. Pasar masih mencermati pemulihan arus minyak mentah dari Timur Tengah yang dinilai belum sepenuhnya konsisten.

Mengutip Investing.com, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 0,2% menjadi US$98,23 per barel. Sementara WTI berada di kisaran US$90,49 per barel.

Kinerja minyak sepanjang September juga masih positif. Harga Brent melonjak sekitar 14%, menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Juli. Adapun WTI naik sekitar 5%.

Pemulihan pasokan mulai terlihat dari ekspor minyak Timur Tengah. Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah kawasan tersebut mencapai 16,328 juta barel per hari (bph) pada September, tertinggi sejak konflik pecah pada Februari.

Arab Saudi juga kembali melayani pemuatan tanker di Pelabuhan Yanbu setelah pipa minyak Timur-Barat diaktifkan kembali.

Namun, pasokan kawasan masih belum kembali ke level sebelum konflik. Ekspor September tercatat sekitar 3,2 juta bph lebih rendah dibanding Februari. Kondisi ini membuat pasar minyak masih rentan terhadap gangguan pasokan baru.

Di sisi lain, ketatnya pasokan produk olahan ikut menopang harga minyak. Data EIA menunjukkan stok minyak mentah AS memang naik 922.000 barel pekan lalu, berlawanan dengan ekspektasi penurunan 700.000 barel.

Namun, stok bensin turun 1,7 juta barel dan persediaan produk sulingan, termasuk solar dan minyak pemanas, anjlok 2,3 juta barel.

Harga solar AS bahkan menyentuh rekor US$6,53 per galon, sementara cadangan solar berada pada level rendah secara historis.

Presiden Donald Trump pada Rabu juga mengatakan masih membahas kemungkinan pembatasan ekspor solar AS. Pernyataan itu muncul setelah Gedung Putih sebelumnya membantah laporan mengenai rencana larangan ekspor solar secara menyeluruh selama 90 hari.

Sementara itu, perkembangan diplomasi AS-Iran turut menjadi perhatian pasar. Iran menyatakan telah menerima tanggapan AS terkait proposal terbaru untuk memulihkan gencatan senjata. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi prospek gangguan pasokan minyak di kawasan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com