Harga Minyak Turun Drastis saat Donald Trump Ancam Hancurkan Iran

Kamis, 24 September 2026 | 08:34 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka kemungkinan untuk mencalonkan diri dalam Pilpres AS 2028. [Istimewa]
BACA 10 DETIK
  • Harga minyak mentah Brent dan WTI melemah di pasar Asia pada Kamis, 24 September 2026.
  • Peluang diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran di Sidang PBB meredakan kepanikan pasar energi global.
  • Kontrak Brent turun menjadi 102,10 dolar AS per barel dan WTI melemah ke 91,50 dolar AS.

Suara.com - Laju pergerakan harga minyak mentah di pasar global kembali menunjukkan tren fluktuatif yang cukup tajam dalam kurun waktu dua puluh empat jam terakhir. Pada sesi perdagangan Asia, Kamis (24/9/2026), harga komoditas energi ini terpantau mengalami pelemahan yang signifikan.

Koreksi harga secara serempak ini terjadi sebagai respons langsung dari para pelaku pasar yang tengah menimbang ulang arah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Munculnya indikasi terbukanya peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi katalis utama yang meredakan kepanikan pasar.

Mengutip data perdagangan dari platform finansial Investing.com, pergerakan harga hingga pukul 20.32 ET atau bertepatan dengan pukul 00.32 GMT menunjukkan bahwa nilai kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent untuk pengiriman bulan November tercatat turun sebesar 1 persen. Pelemahan tersebut membawa harga minyak Brent menyusut dan berada di posisi 102,10 dolar AS per barel.

Tren negatif yang sama juga melanda patokan harga minyak mentah Amerika Serikat. Minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan melemah sebesar 0,7 persen dan menetap di level 91,50 dolar AS per barel pada sesi perdagangan yang sama.

Penurunan harga pada perdagangan Kamis pagi ini berbanding terbalik dengan dinamika yang terjadi pada sesi bursa sebelumnya. Pada penutupan perdagangan hari Rabu, harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak tajam hampir 4 persen, sementara minyak mentah WTI juga merangkak naik sekitar 2 persen akibat tingginya spekulasi pasar mengenai potensi eskalasi militer skala penuh di kawasan Timur Tengah.

Lonjakan harga komoditas energi yang sempat terjadi pada hari Rabu sangat dipengaruhi oleh dinamika politik di markas besar PBB di New York. Pemicu utama lonjakan tersebut adalah pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam forum Sidang Majelis Umum PBB.

Dalam pidato bersejarahnya, Pezeshkian secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah tunduk pada tekanan dari Amerika Serikat. Namun, di balik ketegasan tersebut, ia juga memberikan sinyal positif bagi bursa energi dengan menegaskan bahwa pihak Teheran tetap membuka ruang yang lebar bagi dialog diplomatik.

Pernyataan bernada moderat dari pemimpin Iran tersebut disampaikan hanya berselang sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman militer yang sangat eksplisit. Dalam pernyataannya, Trump melontarkan peringatan keras bahwa ia dapat "menghancurkan" Iran apabila kesepakatan damai gagal dicapai. Tarik-ulur retorika antara kedua kepala negara ini menciptakan ketidakpastian yang sempat mendorong investor untuk memborong kontrak minyak mentah sebagai instrumen lindung nilai, sebelum akhirnya pasar melakukan aksi ambil untung pada sesi Asia hari Kamis.

Di luar retorika publik yang memanas, upaya komunikasi intensif secara diam-diam terus dijajaki oleh kedua belah pihak. Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan kepada kantor berita Reuters bahwa pihak Teheran saat ini tengah mengkaji secara mendalam tanggapan dari Washington terhadap proposal perdamaian yang mereka ajukan.

Meskipun proses komunikasi ini mulai berjalan, pejabat tersebut mengakui bahwa sejumlah perbedaan mendasar masih belum menemukan titik terang atau terselesaikan seutuhnya.

Fokus utama dari diskusi tidak langsung ini mencakup beberapa opsi strategis yang sangat memengaruhi stabilitas pasar energi global. Dua poin krusial yang tengah dibahas adalah wacana pembukaan kembali Selat Hormuz untuk jalur pelayaran komersial sipil, serta tuntutan krusial terkait pencabutan blokade armada angkatan laut AS terhadap wilayah perairan Iran.

Infrastruktur perairan Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial yang sangat menentukan arah pergerakan pasar. Jalur pelayaran sempit ini memiliki nilai strategis yang tak tergantikan karena pada kondisi normal menangani pergerakan sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam dunia setiap harinya.

Terkait status perairan strategis ini, otoritas di Teheran masih memegang teguh sikap kerasnya sebagai posisi tawar. Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei menegaskan pada hari Rabu bahwa jalur air strategis tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum seluruh syarat dari Teheran dipenuhi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com