- Harga minyak dunia naik tipis pada Jumat 2 Oktober 2026 akibat keputusan China menyetop ekspor bahan bakar.
- Amerika Serikat mengerahkan pasukan tambahan ke Timur Tengah serta mendesak Eropa merilis cadangan darurat solar.
- Penguatan harga minyak tercatat pada Brent dan WTI setelah sehari sebelumnya sempat mengalami lonjakan signifikan.
Suara.com - Harga minyak dunia terpantau merangkak naik tipis pada perdagangan Jumat 2 Oktober 2026, setelah China memutuskan untuk menghentikan ekspor bahan bakarnya.
Sentimen pasar turut terdorong oleh laporan The Wall Street Journal (WSJ) yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) mengerahkan tambahan pasukan serta kapal induk ke Timur Tengah, di tengah upaya Washington mendesak Eropa untuk merilis cadangan darurat solar.
Mengutip dari Reuters, minyak mentah berjangka Brent tercatat menguat 29 sen atau 0,28 persen menjadi 102,60 dolar AS per barel pada pukul 00:22 GMT. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 27 sen atau 0,29 persen ke level 93,14 dolar AS per barel.
Sehari sebelumnya pada Kamis, harga Brent sempat melesat lebih dari 4 dolar AS dan WTI menanjak lebih dari 2 dolar AS menyusul laporan WSJ serta kabar pembatasan ekspor dari China, yang memicu kekhawatiran krisis bahan bakar global akan semakin parah.
Secara mingguan, Brent berada di jalur pelemahan sekitar 1,93 persen setelah sebelumnya membukukan lonjakan bulanan hingga 14 persen pada September. Adapun WTI mencatatkan kenaikan sekitar 4 persen pada bulan lalu.
Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai pasar saat ini sedang mencerna berbagai sinyal yang saling bertolak belakang. Setelah gejolak pada perdagangan Kamis, para pelaku pasar memilih untuk "mengambil napas sejenak."
"Gambaran ekspor Arab Saudi yang tampak lebih sehat kini diimbangi oleh laporan pengerahan kapal induk AS tambahan ke Teluk serta keputusan China yang mengetatkan ekspor produk kilang," ujar Waterer.
WSJ melaporkan bahwa AS mengirimkan kapal induk ketiga serta tambahan hingga 10.000 personel militer ke Timur Tengah, seiring pertimbangan Presiden Donald Trump untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran pasca-pemilu paruh waktu AS.
"Sekarang saya harus membuat keputusan. Mereka entah akan menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan eksis lagi," kata Trump kepada para wartawan di Gedung Putih.
Di sisi lain, Beijing sebelumnya sempat membatasi ekspor bahan bakar pada Maret lalu menyusul pecahnya perang AS-Israel terhadap Iran, sebelum melonggarkan pembatasan tersebut pada Juli dan mengontrol pengapalan solar, bensin, serta bahan bakar jet secara bulanan.
China, yang baru saja memulai libur panjang sepekan pada Kamis, belum memberikan lampu hijau bagi kilang-kilang utama untuk melakukan ekspor ke luar kawasan Hong Kong dan Macau sepanjang Oktober ini. Belum ada kepastian apakah Beijing akan kembali membuka izin ekspor kilang setelah liburan berakhir pada 7 Oktober mendatang.
Selain itu, pemerintahan Trump dilaporkan telah meminta Jerman dan Prancis untuk menggunakan cadangan darurat solar guna meredam lonjakan harga bahan bakar global, atau menghadapi potensi larangan ekspor solar dari AS. Kebijakan ini disampaikan oleh tiga narasumber yang dekat dengan perundingan tersebut.
"Tekanan AS terhadap negara-negara Uni Eropa untuk merilis cadangan minyaknya turut menjadi faktor penahan pergerakan harga," ungkap Mukesh Sahdev, Kepala Analis Minyak di XAnalysts.
Seorang sumber kepada Reuters mengungkapkan bahwa AS telah meminta Uni Eropa untuk melepaskan 120 juta barel solar dalam kurun waktu enam bulan ke depan. Saat ini, negara-negara anggota Uni Eropa tercatat memegang cadangan darurat minyak mentah dan bahan bakar hingga hampir mencapai 109 juta ton.