Saat IHSG Hancur 30 Persen, Investor Swedia Borong Saham RI Untuk Pertama Kalinya

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 13:14 WIB
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]
BACA 10 DETIK
  • IHSG anjlok sekitar 30 persen, tetapi investor Swedia mulai masuk.
  • Coeli membeli GOTO dan BBCA, alokasi RI hampir 6 persen.
  • Arus asing keluar US$4,7 miliar sepanjang 2026.

Suara.com - Pasar saham Indonesia sedang berada dalam tekanan berat. Namun, ketika banyak investor asing memilih hengkang, justru ada pengelola dana asal Swedia yang melihat kejatuhan pasar saham Indonesia sebagai peluang.

Coeli Asset Management mulai membeli saham Indonesia untuk pertama kalinya melalui Coeli Frontier Markets Fund. Langkah tersebut dilakukan setelah indeks saham acuan Indonesia merosot sekitar 30 persen sepanjang tahun ini.

Manajer investasi asal Stockholm itu menilai koreksi tajam telah membuat valuasi sejumlah saham Indonesia menjadi lebih menarik.

"Kami telah mengamati Indonesia selama beberapa tahun, tetapi sederhananya, pasar Indonesia selama ini terlalu mahal," kata Fund Manager Coeli Asset Management James Bannan dalam wawancara dengan Bloomberg.

Coeli bahkan telah membeli sejumlah saham Indonesia, termasuk PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Alokasi saham Indonesia kini mencapai hampir 6 persen dari portofolio Coeli Frontier Markets Fund.

Menurut Bannan, pelemahan pasar membuat sejumlah saham Indonesia diperdagangkan jauh di bawah rata-rata historisnya. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi investor yang sebelumnya menganggap pasar saham Indonesia terlalu mahal.

Namun, masuknya Coeli terjadi ketika sentimen terhadap pasar Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan.

Salah satunya adalah kekhawatiran mengenai transparansi pasar, konsentrasi kepemilikan saham, serta rendahnya porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik atau free float. MSCI sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market apabila persoalan tersebut tidak ditangani.

Tekanan juga datang dari arus dana asing. Bloomberg melaporkan investor global telah mencatat penjualan bersih sekitar US$4,7 miliar saham Indonesia sepanjang tahun ini.

Di pasar valuta asing, rupiah juga melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS sejak akhir tahun lalu. Pelemahan rupiah tersebut turut menggerus imbal hasil investor asing berbasis dolar.

Meski demikian, Coeli melihat kondisi tersebut dari sisi berbeda.

Bannan mengatakan pihaknya telah datang ke Jakarta pada September untuk melihat secara langsung kondisi pasar dan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Dari kunjungan tersebut, Coeli menilai pemerintah masih merespons masukan dari pelaku pasar.

"Kami menemukan bahwa meskipun dia memiliki kecenderungan populis, pada akhirnya dia juga tampaknya mendengarkan pasar," ujar Bannan.

Coeli sendiri merupakan investor di pasar frontier. Dana tersebut memiliki eksposur besar di Vietnam dan Kazakhstan, sementara Indonesia sebelumnya belum menjadi bagian dari portofolionya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com