Harga Minyak Mentah Merosot saat Cadangan Dunia Terkuras, Ada Apa?

Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:47 WIB
IIustrasi Kilang Minyak [Pexels].
BACA 10 DETIK
  • Harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada Rabu, 7 Oktober 2026, akibat pelepasan cadangan darurat IEA.
  • Badan Energi Internasional bersama Prancis melepas cadangan minyak demi menekan lonjakan harga dari konflik Iran.
  • Ancaman badai tropis di Teluk Meksiko berisiko memangkas produksi minyak mentah Amerika Serikat secara signifikan.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (7/10/2026) setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang sesi.

Penurunan ini dipicu oleh kesepakatan Badan Energi Internasional (IEA) untuk mempercepat pelepasan cadangan minyak darurat serta memprioritaskan pasokan bahan bakar diesel demi menekan rekor lonjakan harga akibat pengetatan pasokan dari konflik Iran.

  • Minyak Brent: Terkoreksi 38 sen atau 0,38% ke level US$100,20 per barel.
  • Minyak West Texas Intermediate (WTI) AS: Merosot US$1,16 atau 1,3% ke posisi US$88,28 per barel.
  • Pelepasan Cadangan Darurat dan Data Stok AS

IEA menyatakan bahwa percepatan penyaluran cadangan minyak yang telah diumumkan sebelumnya dapat menambahkan pasokan sekitar 100 juta barel ke pasar global. Secara terpisah, Prancis juga berencana meluncurkan 10 juta barel diesel dari cadangan strategis nasionalnya.

Analis dari Again Capital, John Kilduff, menilai langkah ini meredakan tekanan pasar di Eropa yang menjadi pusat krisis pasokan, sekaligus mengurangi beban terhadap minyak mentah WTI dan stok di Amerika Serikat.

Sementara itu, laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah domestik menyusut 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober 2026.

Penurunan ini berbanding terbalik dengan ekspektasi konsensus analis yang memproyeksikan kenaikan sebesar 1,7 juta barel. Stok produk distilat juga mengalami penurunan, sedangkan persediaan bensin tercatat meningkat.

Risiko Geopolitik dan Konflik Global

Dikutip dari Reuters, tekanan harga minyak mentah relatif terbatas lantaran pasar masih dibayangi risiko ketidakpastian pasokan akibat eskalasi konflik di berbagai wilayah:

Timur Tengah: Kelompok Houthi Yaman kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke Bandara Internasional Aden. Ketegangan diplomasi juga terus berlanjut setelah pejabat senior Iran menyatakan usulan AS mengenai penghentian pengayaan nuklir bertolak belakang dengan tuntutan Teheran.

Perang Rusia-Ukraina: Pasukan Ukraina menghantam dua fasilitas minyak milik Rusia, sementara gempuran balik Rusia menyasar berbagai wilayah Ukraina dan menewaskan sedikitnya 15 orang. CEO Vitol Russell Hardy menegaskan bahwa gangguan pada fasilitas kilang di Timur Tengah dan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia kian memperketat kondisi pasar BBM global.

Ancaman Badai Atlantik di Teluk Meksiko

Di sisi lain, pasar minyak bersiap menghadapi gangguan produksi akibat faktor cuaca. Prakirawan cuaca memperingatkan potensi pembentukan badai tropis di Teluk Meksiko yang diperkirakan berkembang menjadi badai Atlantik pertama pada musim 2026 dalam dua hari ke depan.

Kawasan Teluk Meksiko memegang peranan vital dengan menyumbang sekitar 2,05 juta barel per hari atau setara 15% dari total produksi minyak mentah AS. Berdasarkan model estimasi konsultan Earth Science Associates, badai ini berisiko memangkas produksi hingga 11,2 juta barel minyak selama melintas—meningkat signifikan dibandingkan dampak Badai Tropis Bertha pada Juli lalu yang memangkas 7,1 juta barel.

Chief Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menyebut ancaman badai ini menjadi komplikasi baru yang tidak diharapkan pasar di tengah tingginya ketidakpastian pasokan global.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com