- RI masih impor 840,8 juta kg bijih dan konsentrat nikel.
- Impor terjadi di tengah gencarnya program hilirisasi nikel.
- Bahan baku datang dari Brasil, China, Filipina hingga AS.
Suara.com - Meski memiliki cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia ternyata masih melakukan impor nikel untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negari.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diakses pada Kamis (8/10/2026) pukul 11.00 WIB mencatat impor bijih dan konsentrat nikel (nickel ores and concentrates) dengan kode HS 26040000 mencapai 840.788.210,11 kg atau sekitar 840.788 ton sepanjang 2026.
Besarnya volume impor tersebut menjadi sorotan karena Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia. Pemerintah bahkan menjadikan nikel sebagai komoditas utama dalam agenda hilirisasi untuk mendorong pengolahan mineral di dalam negeri.
Data BPS menunjukkan impor tersebut masuk melalui sejumlah pelabuhan yang menjadi pusat industri nikel, antara lain Morowali, Weda, Obi Island, Kendari, Balikpapan, Tanjung Priok hingga Soekarno-Hatta.
Sejumlah transaksi bahkan tercatat dalam volume puluhan juta kilogram. Salah satu catatan terbesar mencapai 93,81 juta kg, disusul 88,32 juta kg, 67,92 juta kg, 66,29 juta kg, serta 65,25 juta kg.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa geliat industri pengolahan nikel di Indonesia masih berjalan beriringan dengan masuknya bahan baku dari luar negeri. Artinya, hilirisasi belum otomatis berarti seluruh kebutuhan bahan baku industri dapat dipenuhi dari produksi domestik.
BPS juga mencatat sumber impor berasal dari sejumlah negara atau wilayah, termasuk Brasil, China, India, Paraguay, Filipina, Kepulauan Solomon, Taiwan, Turki, dan Amerika Serikat.