Suara.com - Inovasi kemasan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular. Namun, menurut Director of Communications, Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia, Nurdiana Darus, keberhasilannya bukan hanya ditentukan oleh material yang digunakan, tetapi juga oleh sistem yang mendukung pengelolaannya setelah digunakan.
Menurut perspektif yang dibawa oleh Unilever, inovasi kemasan harus dimulai dari kebutuhan konsumen serta karakteristik produk yang akan dilindungi. Dari kebutuhan tersebut, perusahaan dapat menentukan solusi inovasi kemasan yang mampu menjalankan berbagai fungsi serta dampak secara seimbang, bagi konsumen maupun lingkungan.
Unilever menilai inovasi kemasan juga tidak selalu harus dilakukan dengan mengganti seluruh material. Optimalisasi terhadap sistem kemasan yang sudah ada dapat memberikan dampak yang signifikan, selama tetap mempertahankan keamanan, kualitas, performa, kenyamanan, dan keterjangkauan produk.
Sering kali, dampak yang lebih besar justru dapat dicapai melalui optimalisasi sistem kemasan yang sudah ada. Langkah ini dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan material, mengembangkan teknologi pelapis dan pelindung (barrier) yang lebih efisien, membuat kemasan lebih ringan, atau meningkatkan kandungan material daur ulang. Seluruh upaya tersebut tetap harus memastikan keamanan, kualitas, performa, kenyamanan, dan keterjangkauan produk bagi konsumen.
Pendekatan serupa juga diterapkan Unilever dalam mengeksplorasi berbagai alternatif kemasan, termasuk kemasan berbasis kertas (paper-based). Berbagai uji coba terus dilakukan untuk mencari solusi yang paling tepat, namun keputusan tidak semata-mata ditentukan oleh jenis material yang digunakan.
Menurut Nurdiana, kemasan yang baik harus mampu menjaga kualitas dan keamanan produk sepanjang masa pakainya, sekaligus memiliki jalur pengelolaan yang jelas setelah digunakan. Dengan kata lain, keberlanjutan sebuah kemasan tidak hanya ditentukan oleh bahan pembuatnya, tetapi juga oleh kemampuannya untuk dikumpulkan dan diolah kembali setelah menjadi sampah.
Karena itu, inovasi kemasan perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem pengumpulan dan pengelolaan sampah. Tanpa dukungan infrastruktur dan ekosistem yang memadai, potensi manfaat dari inovasi kemasan tidak akan dapat diwujudkan secara optimal. Pada akhirnya, solusi yang memberikan dampak nyata adalah solusi yang bekerja sepanjang siklus hidup kemasan, dari produksi hingga pascakonsumsi. ***