- Indonesia produsen kelapa terbesar kedua dunia, tetapi petani masih menghadapi produktivitas rendah dan rantai distribusi panjang.
- Pemerintah mendorong peremajaan tanaman, modernisasi teknologi, koperasi, dan hilirisasi kelapa.
- WCD 2026 menjadi ajang memperluas pasar global sekaligus memperjuangkan kesejahteraan petani.
Suara.com - Indonesia menjadi produsen kelapa terbesar kedua di dunia. Namun, besarnya potensi komoditas ini belum sepenuhnya mendongkrak kesejahteraan petani akibat minimnya perawatan tanaman, keterbatasan teknologi, dan panjangnya rantai distribusi.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti persoalan tersebut saat membuka World Coconut Day (WCD) 2026 di Manado, Sulawesi Utara, Kamis (8/10/2026).
“Selama ini kelapa itu seperti 'Tuhan yang tanam, Tuhan yang petik'. Tanaman dibiarkan tumbuh sendiri, lalu saat berbuah tinggal dipetik tanpa ada perawatan, pemupukan, atau peremajaan benih yang terencana,” ujar Zulkifli.
Menurutnya, pengelolaan perkebunan kelapa yang belum optimal menjadi tantangan di tengah besarnya peluang pasar produk turunan kelapa. Padahal, komoditas ini bisa diolah menjadi beragam produk bernilai tambah, mulai dari air kelapa, sabut, tempurung, minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO), hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF).
Masalah lainnya adalah lemahnya posisi tawar petani. Sebagian besar perkebunan kelapa dikelola petani swadaya dengan lahan terbatas, sementara banyak tanaman sudah tua dan akses terhadap modal serta teknologi pascapanen masih terbatas. Kondisi ini membuat petani berisiko tidak menikmati kenaikan nilai ekonomi produk kelapa di pasar global.
WCD 2026 yang menghadirkan sekitar 700 peserta dari 21 negara anggota International Coconut Community (ICC) pun menjadi momentum untuk memperkuat hilirisasi dan memperbaiki rantai pasok kelapa dari hulu hingga hilir.
Pemerintah mendorong peremajaan tanaman menggunakan benih unggul, penerapan pertanian presisi, penguatan koperasi petani, serta modernisasi fasilitas pengolahan pascapanen. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) juga diarahkan mendukung teknologi pengolahan yang memungkinkan seluruh bagian kelapa dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Direktur Jenderal ICC Jelfina C. Alouw menegaskan pengembangan industri kelapa harus melibatkan petani kecil agar manfaat ekonominya lebih merata.
“Kelapa bukan sekadar tanaman komoditas komersial, melainkan Tree of Life yang menopang ketahanan pangan, energi, dan penghidupan jutaan keluarga di negara-negara berkembang,” kata Jelfina.
Berlangsung hingga 10 Oktober 2026, WCD juga menghadirkan lokakarya peningkatan kapasitas UMKM, pameran produk turunan kelapa, serta pertemuan bisnis antara produsen lokal dan pembeli internasional.
Pemerintah berharap kolaborasi lintas lembaga dan negara dapat mendorong transformasi industri kelapa Indonesia. Tantangannya, memastikan peningkatan nilai tambah tidak berhenti di tingkat pengolahan dan perdagangan, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani sebagai pemasok utama komoditas tersebut.