- Rupiah dibuka menguat 19 poin ke level Rp17.880 per dolar AS.
- Harga minyak dan pelemahan dolar AS menopang penguatan rupiah.
- Geopolitik Timur Tengah membatasi penguatan rupiah di kisaran Rp17.850–Rp17.950.
Suara.com - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/10/2026). Penguatan mata uang Garuda ditopang penurunan harga minyak dunia, pelemahan indeks dolar AS, serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.880 per dolar AS. Posisi ini menguat 19 poin atau 0,11% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.899 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan rupiah pada awal pekan ini.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak dunia dan indeks dolar oleh harapan meredanya kelangkaan bahan bakar diesel yang akan dilepas Russia tiap hari atas permintaan Trump," katanya saat dihubungi Suara.com.
Meski demikian, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Lukman menilai situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas berpotensi menahan penguatan mata uang Garuda.
"Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas. Range Rp17.850-Rp17.950," jelasnya.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS pada pagi ini. Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar sebesar 0,31%, disusul ringgit Malaysia yang naik 0,13%.
Yen Jepang juga menguat 0,11%, diikuti peso Filipina sebesar 0,10%, dolar Singapura 0,09%, dan baht Thailand 0,06%.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia masih tertekan. Dolar Taiwan melemah 0,12%, yuan China turun 0,02%, sedangkan dolar Hong Kong terkoreksi tipis 0,001% terhadap dolar AS.