Gaya Konsumsi Orang RI Berubah Total, Data BPS dan TikTok Buktikan Ini

Senin, 12 Oktober 2026 | 19:09 WIB
Ilustrasi belanja online Tokopedia TikTok Shop. [Tokopedia]
BACA 10 DETIK
  • Konsumsi rumah tangga tumbuh di atas 5%, tetapi pola belanja masyarakat bergeser.
  • Pesanan TikTok Shop dari affiliate creator melonjak 170% pada kuartal I 2026.
  • Perubahan ini turut membuka peluang bagi perdagangan berbasis konten atau discovery commerce.

Suara.com - Pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia mulai mengubah cara pelaku usaha menjual produk. Belanja tidak lagi hanya mengandalkan toko fisik, tetapi semakin bergantung pada marketplace, rekomendasi kreator, hingga konten video yang mendorong konsumen mengambil keputusan pembelian.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga masih tumbuh di atas 5% pada semester I 2026. Namun, pola belanja masyarakat mulai bergeser ke sektor transportasi, restoran, hotel, dan pariwisata, serta transaksi elektronik.

Kepala BPS Amalia Adininggar mengatakan, perubahan tersebut mencerminkan pergeseran gaya hidup dan cara masyarakat berbelanja, dari transaksi langsung menjadi transaksi digital.

“Daya beli masyarakat di Indonesia ini berdasarkan catatan BPS itu memang masih kuat karena selama satu semester itu masih tumbuh di atas 5% untuk konsumsi masyarakat,” kata Amalia di Jakarta, Senin (12/10).

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Hari Wibowo juga menyoroti meningkatnya konsumsi untuk perjalanan dan pariwisata. Di sisi lain, transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) meningkat lebih dari 100%.

Perubahan ini turut membuka peluang bagi perdagangan berbasis konten atau discovery commerce, ketika konsumen menemukan produk melalui video pendek, siaran langsung, dan rekomendasi kreator sebelum melakukan pembelian.

Data internal TikTok Shop menunjukkan, pada kuartal I 2026, pesanan melalui affiliate creator melonjak 170% secara tahunan. Pesanan melalui video pendek tumbuh 135%, sedangkan pesanan dari fitur LIVE Shopping meningkat 59%.

Salah satu brand yang memanfaatkan tren tersebut adalah Momami, merek perawatan anak asal Indonesia. Melalui Tokopedia dan TikTok Shop, Momami mencatat pertumbuhan bisnis lebih dari dua kali lipat secara tahunan, didukung puluhan ribu video dari affiliate creator setiap bulan.

Marketing Manager Momami Albert Tee mengatakan, konten kreator membantu konsumen memahami manfaat dan cara penggunaan produk sebelum membeli. Sementara itu, fitur LIVE Shopping memberikan kesempatan bagi calon pembeli untuk bertanya langsung.

Didirikan pada 2019 di bawah PT Multitrend Indo Tbk, bagian dari Kanmo Group, Momami awalnya menjual tisu basah sebelum memperluas produk ke sampo, sabun mandi bayi, tabir surya, dan losion antinyamuk.

Momami juga mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 30% selama Ramadan, antara lain didorong permintaan tabir surya dan losion antinyamuk menjelang mudik Lebaran.

Momami kemudian terpilih sebagai brand lokal pertama dalam program perdana #BeliLokal Brand Day dari Tokopedia dan TikTok Shop yang digelar di Bandung pada 3 Oktober 2026.

Senior Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Vonny Ernita Susamto mengatakan, integrasi konten, kreator, promosi, dan perdagangan digital diharapkan membantu brand lokal memperluas jangkauan pasar sekaligus membangun hubungan dengan konsumen.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com