- Survei Synology menunjukkan bahwa 94 persen perusahaan Indonesia menilai infrastruktur AI sangat penting tetapi hanya 8,4 persen yang siap menghadapi ancaman siber.
- Mayoritas karyawan Indonesia masih menghabiskan waktu lebih dari dua jam setiap hari untuk menyelesaikan pekerjaan dokumen manual yang repetitif.
- Synology mengembangkan berbagai solusi penyimpanan data dan fitur efisiensi untuk membantu perusahaan mengatasi tantangan keamanan serta pengelolaan infrastruktur AI.
Suara.com - Adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di sektor korporasi Indonesia terus menunjukkan lonjakan signifikan. Namun pesatnya integrasi AI di lingkungan kerja ternyata belum diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan sistem ketahanan siber yang memadai di mayoritas perusahaan.
Hasil survei terbaru yang dirilis oleh Synology mengungkapkan adanya kesenjangan (gap) yang cukup besar antara antusiasme adopsi AI dengan tingkat kesiapan sistem perlindungan data di tanah air.
Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu mengungkapkan bahwa mayoritas pelaku usaha di Indonesia sebenarnya telah menyadari krusialnya peran infrastruktur yang mendukung teknologi AI.
"94% perusahaan di Indonesia itu menilai infra yang ready AI itu sangat penting. Bahkan tepatnya ada 50% menilai sangat penting. Dan yang menarik tidak ada satu pun responden dari survei ini yang menilai bahwa infra IT untuk ready AI tidak penting, satu pun tidak ada," ujar Clara Hsu.
Meski kesadaran tergolong tinggi, temuan riset menunjukkan kenyataan di lapangan mengenai kesiapan menghadapi dampak keamanan dari AI. Hanya ada 8,4% perusahaan di Indonesia yang mengaku sangat siap untuk bertahan sekaligus pulih dari ancaman siber berbasis AI.
"Hanya 8,4 persen perusahaan di Indonesia yang merasa sangat siap untuk bertahan dan juga bisa pulih dari ancaman siber yang berbasis AI. Artinya lebih dari 9 dari 10 perusahaan di Indonesia itu belum sepenuhnya siap," ungkap Clara.
Selain itu, survei juga mencatat hanya 24 persen perusahaan yang optimistis dapat melakukan pemulihan data (recovery) secara cepat apabila terserang ransomware.
Tantangan Efisiensi Operasional dan Risiko Data
Di sisi operasional harian, adopsi AI yang belum merata juga berdampak pada efisiensi kerja karyawan. Survei Synology mencatat sebanyak 81% karyawan di Indonesia masih menghabiskan waktu lebih dari 2 jam setiap harinya hanya untuk menyelesaikan pekerjaan manual terkait dokumen. Bahkan, 36% di antaranya menyita waktu hingga lebih dari 5 jam sehari.
"Mempersiapkan dokumen dan presentasi, misalkan mengolah spreadsheet, mencari informasi, atau menerjemahkan, pekerjaan berulang ini cukup sangat memakan waktu. Dan justru di sinilah kita bisa memanfaatkan AI lebih nyata," kata Clara.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam adopsi AI di Indonesia terutama terletak pada keamanan dan privasi data. Tanpa adanya tata kelola dan kontrol terpusat atas penggunaan perangkat AI oleh karyawan, informasi sensitif perusahaan berisiko dibagikan secara cuma-cuma ke layanan AI pihak ketiga tanpa sepengetahuan tim IT.
Synology menekankan bahwa strategi adopsi AI yang tepat bagi perusahaan bukanlah seberapa rumit teknologi yang diimplementasikan, melainkan seberapa aman dan terarah fondasi data yang dibangun.
"Strategi AI yang terbaik bukan yang paling rumit, tapi yang paling praktis, yang paling mudah dikelola, dan yang bisa kita lakukan dan gunakan secara berkelanjutan," tegas Clara.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Synology terus memperluas portofolio penyimpanannya untuk memenuhi kebutuhan bisnis dari berbagai skala, mulai dari UKM dengan kebutuhan penyimpanan dan kolaborasi sehari-hari hingga enterprise yang menangani beban kerja kompleks. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk mengembangkan infrastruktur secara bertahap sesuai kebutuhan operasional.
Untuk kebutuhan enterprise, PAS7700 memperluas lini solusi Synology melalui teknologi penyimpanan NVMe yang dirancang untuk kebutuhan kritikal.
Sementara itu, solusi penyimpanan generasi terbaru dalam seri FS dan RS juga mendukung kebutuhan penyimpanan berperforma tinggi maupun operasional bisnis secara umum. Pengembangan ini tidak hanya berfokus pada performa, tetapi juga pada peningkatan ketersediaan sistem, kemudahan pengelolaan, dan skalabilitas infrastruktur.
Menjawab efisiensi kapasitas, Synology juga mengembangkan fitur Synology Tiering dan reduksi data pada sistem operasi DSM 7.4. Teknologi ini membantu mengoptimalkan kapasitas penyimpanan dengan mengelola penempatan data berdasarkan pola akses serta mengurangi duplikasi yang tidak diperlukan.
Ke depannya, Synology juga tengah mengembangkan teknologi scale-out storage, yang memungkinkan perusahaan meningkatkan kapasitas dan performa penyimpanan secara lebih fleksibel.