IHSG Anjlok dan 495 Saham Rontok, Analis Malah Sebut 'Diskon Besar'

Selasa, 13 Oktober 2026 | 12:57 WIB
ARSIP-Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • RHB Sekuritas memangkas target IHSG tahun 2026 menjadi 7.000 akibat krisis kepercayaan investor yang memicu tekanan jual.
  • IHSG ditutup melemah 0,416 persen ke level 5.911,463 pada perdagangan sesi pertama hari Selasa.
  • RHB Sekuritas merekomendasikan saham-saham pembagi dividen besar seperti ACES, BMRI, dan PGAS di tengah tekanan pasar.

Suara.com - Pasar modal Indonesia masih harus melewati jalan terjal. RHB Sekuritas memandang bahwa prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih sangat menantang hingga akhir tahun 2026, yang utamanya dipicu oleh krisis kepercayaan di kalangan investor.

Meskipun secara fundamental pasar saham domestik sebenarnya menawarkan peluang pemulihan yang menarik, keyakinan pelaku pasar yang masih terlampau rapuh membuat kebangkitan indeks secara masif sulit untuk segera terwujud.

Merespon kondisi tersebut, RHB Sekuritas mengambil langkah penyesuaian dengan memangkas target indeks saham untuk tahun 2026, turun dari level 7.300 menjadi 7.000.

Penurunan target ini merefleksikan valuasi indeks yang berada di posisi -2 standar deviasi, sebuah indikator teknikal yang mencerminkan adanya kenaikan premi risiko (risk premium) di pasar.

“Rebound indeks saham pada kuartal III-2026 akhirnya berujung pada tekanan jual hebat pada September 2026. Saat ini, PER IHSG hanya 10 kali, diskon 27% dari rata-rata historis,” tulis RHB dalam riset, dikutip Selasa (13/10/2026).

Dalam skenario pasar yang penuh tekanan seperti saat ini, strategi investasi yang berfokus pada saham-saham penebar dividen besar dengan valuasi yang tergolong murah dinilai sangat layak untuk dicermati. RHB Sekuritas menjagokan jajaran saham yang memiliki rekam jejak pembagian dividen royal, didukung oleh struktur neraca keuangan yang tangguh serta kinerja operasional yang solid.

Pihak sekuritas juga secara aktif terus memantau arah arus modal asing, kualitas aset perbankan, tingkat volatilitas harga komoditas global, hingga eksekusi berbagai regulasi kunci oleh pemerintah.

Melalui saringannya, RHB memunculkan lima nama saham yang masuk ke dalam kelompok penebar dividen besar, yakni PT Aspirasi Hidup Indonesia (ACES), Mastersystem Infotama (MSTI), PT Bank BTPN Syariah (BTPS), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS).

Kelima emiten ini diproyeksikan mampu memberikan imbal hasil dividen (dividend yield) yang sangat menggiurkan di kisaran 9,3 persen hingga 13,4 persen pada tahun 2027 mendatang, dengan tingkat valuasi yang sangat murah di rentang 4,8 hingga 6,8 kali.

Di luar deretan saham pembagi dividen, RHB Sekuritas juga merilis daftar saham pilihan utama (top picks) dengan rekomendasi beli (buy). Saham-saham tersebut meliputi BBCA dengan target harga Rp7.740, BBRI di target Rp3.600, TLKM menuju Rp3.450, MDKA di level Rp3.900, dan INDF dengan target Rp9.500. Selanjutnya, rekomendasi beli juga disematkan pada saham PTBA (target Rp3.500), MEDC (Rp1.900), MAPA (Rp1.030), AUTO (Rp4.200), dan LSIP (Rp1.850).

Sesi 1 IHSG Ditutup Melemah

Sementara itu, pada perdagangan sesi I hari Selasa ini, kinerja IHSG secara nyata merefleksikan tantangan yang dijabarkan tersebut. Indeks ditutup melemah 24,684 poin atau terkoreksi 0,416 persen hingga terparkir di level 5.911,463.

Sentimen negatif tampak mendominasi papan perdagangan, di mana sebanyak 495 saham mengalami penurunan harga, berbanding dengan 395 saham yang merangkak naik, dan 280 saham lainnya stagnan tanpa perubahan harga. Total nilai transaksi pada separuh hari perdagangan ini tercatat mencapai Rp6,02 triliun.

Di tengah pelemahan indeks tersebut, sejumlah saham tetap mencatatkan lonjakan harga yang signifikan dan masuk ke dalam jajaran top gainers. Saham SINI melesat Rp1.000 menjadi Rp14.700 per lembar, disusul oleh ALKA yang naik Rp800 menjadi Rp7.300 per lembar, dan UANG yang terapresiasi Rp680 menjadi Rp3.410 per lembar.

Sebaliknya, barisan saham yang mengalami penurunan harga terdalam (top losers) dipimpin oleh DCII yang anjlok Rp6.350 menjadi Rp193.125 per lembar. Posisi selanjutnya diisi oleh POLU yang turun Rp400 menjadi Rp14.000 per lembar, serta saham LIFE yang tergelincir Rp350 menjadi Rp9.975 per lembar.

Adapun dari sisi volume dan nilai transaksi, aktivitas perdagangan didominasi oleh pergerakan saham DSSA yang ditransaksikan sebanyak 36.325 kali dengan perputaran dana mencapai Rp405 miliar. Mengekor di belakangnya adalah saham perbankan pelat merah BMRI yang diperdagangkan sebanyak 25.719 kali senilai Rp272 miliar, serta saham CUAN yang berpindah tangan sebanyak 20.206 kali dengan nilai transaksi menyentuh Rp226 miliar.

DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai dinamika pasar modal dan indikator pergerakan saham. Seluruh data transaksi, kinerja keuangan, dan statistik arus modal disadur secara presisi dari rilis riset pasar perbankan dan Bursa Efek Indonesia. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada tanggung jawab masing-masing investor.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com