- CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro menyatakan AI berpotensi mengubah transaksi keuangan perusahaan menjadi lebih cepat dan otomatis.
- Volume transaksi pembayaran digital di Indonesia mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026 atau tumbuh lebih dari 40 persen secara tahunan.
- Digitalisasi perdagangan global diproyeksikan mampu meningkatkan nilai perdagangan sebesar 2,8 triliun dolar AS pada tahun 2031 mendatang.
Suara.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan mengubah cara perusahaan melakukan transaksi keuangan, seiring pesatnya pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia.
CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, mengatakan volume transaksi pembayaran digital di Indonesia terus meningkat. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan transaksi yang semakin berkembang di tengah digitalisasi ekonomi.
Menurut data Bank Indonesia yang dikutip Donny, volume transaksi pembayaran digital pada Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi, tumbuh lebih dari 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Ke depan, kecerdasan buatan (AI) dan mata uang digital berpotensi mengubah cara perusahaan melakukan transaksi keuangan, sehingga transaksi tidak hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga semakin otomatis, cerdas, dan terhubung," ujar Donny di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Indonesia Treasury Leadership Forum 2026 yang diselenggarakan Standard Chartered Indonesia pada Selasa (13/10/2026).
Forum bertema The Blueprint for Tomorrow: From Today’s Disruption to Tomorrow’s Opportunity itu mempertemukan regulator, pelaku industri, pemimpin korporasi, dan para ahli untuk membahas pengaruh perkembangan teknologi serta perubahan ekonomi global terhadap pengelolaan keuangan perusahaan.
Perkembangan teknologi pembayaran dan perubahan rantai pasok global membuat peran treasury perusahaan semakin luas. Selain mengelola kas, perusahaan juga perlu memperhatikan likuiditas, modal kerja, serta risiko di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks.
Pemanfaatan AI, aset digital, dan sistem pembayaran yang semakin terhubung menjadi salah satu topik utama dalam forum tersebut.
Standard Chartered menilai digitalisasi perdagangan juga berpotensi membuka peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan yang menjalankan aktivitas bisnis lintas negara.
Donny mengutip laporan Future of Trade 2026 dari Standard Chartered yang memperkirakan percepatan digitalisasi perdagangan dapat meningkatkan nilai perdagangan global sebesar 2,8 triliun dolar AS atau 6,9 persen di atas proyeksi dasar pada 2031.
"Artinya, semakin luasnya penggunaan teknologi seperti AI, dokumen digital, dan otomatisasi proses bisnis dapat membantu perusahaan melakukan perdagangan lintas negara dengan lebih efisien, sekaligus membuka peluang bisnis yang lebih besar," bebernya.
Meski menawarkan peluang efisiensi, perkembangan sistem pembayaran yang semakin cepat dan terhubung juga menghadirkan tantangan terkait keamanan siber, pencegahan penipuan, dan ketahanan operasional.
Sejalan dengan perubahan kebutuhan perusahaan, Standard Chartered Indonesia telah meluncurkan layanan Payouts-as-a-Service pada awal 2026.
Layanan tersebut memungkinkan nasabah korporasi mengotomatisasi pembayaran dalam skala besar dan berulang kepada berbagai pihak berdasarkan parameter bisnis yang telah ditentukan.
Selain perkembangan sistem pembayaran, forum tersebut juga membahas perubahan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, dan strategi diversifikasi produksi.
Perubahan tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran dalam rantai pasok global, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari investasi yang masuk ke dalam negeri.