- Harga minyak dunia ditutup menguat pada Rabu (14/10/2026) akibat serangan Houthi dan taktik baru Iran.
- Kelompok Houthi menyerang fasilitas Saudi Aramco di Dhahran dan memicu kekhawatiran pasar pasokan energi global.
- Analis menilai potensi lonjakan harga tertahan oleh rencana pasokan diesel dari Rusia dan pelonggaran sanksi.
"Sebagian pemulihan pasokan ini hanya mencerminkan redistribusi stok minyak yang ada, termasuk pengalihan volume yang semula dialokasikan untuk kilang-kilang lokal," jelas Hansen.
Di sisi lain, potensi kenaikan harga yang terlalu ekstrem diperkirakan tertahan oleh prospek pasokan diesel dari Rusia.
Presiden AS, Donald Trump pekan lalu mengumumkan bahwa Rusia setuju memasok diesel ke pasar global, diiringi keputusan Washington melonggarkan sanksi minyak terhadap Moskow secara sementara.
Kepala Strategis Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menilai ekspektasi tambahan pasokan diesel dari Rusia ini dapat menahan pergerakan harga minyak agar tidak melonjak terlalu tajam.
Laporan IEA mencatat produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari, meski masih turun 870.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari pasar domestik AS, data American Petroleum Institute (API) mencatat penyusutan tajam pada stok minyak mentah sebesar 11,1 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 9 Oktober.
Laporan resmi mengenai cadangan minyak mingguan AS dijadwalkan bakal dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) pada Kamis waktu setempat.