- Bursa saham Asia dibuka melemah pada hari Kamis akibat inflasi konsumen Amerika Serikat yang meningkat melebihi perkiraan.
- Kenaikan inflasi tersebut memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menekan pergerakan saham global secara signifikan.
- Sektor teknologi mengalami tekanan terberat akibat kekhawatiran risiko pendanaan kecerdasan buatan serta pembiayaan infrastrukturnya.
Suara.com - Bursa saham Asia kompak dibuka melemah pada perdagangan Kamis. Pelemahan ini disebabkan pengumuman inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada September meningkat lebih tinggi dari perkiraan.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dan menekan pergerakan saham global.
Hal itu terlihay Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,2 persen. Pelemahan dipimpin oleh indeks KOSPI Korea Selatan yang anjlok 5,6 persen.
Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,3 persen. Kontrak berjangka S&P 500 juga melemah 0,3 persen.
Kepala Riset Pepperstone Group Ltd. di Melbourne, Chris Weston, menilai bahw pasar Asia masih menghadapi tekanan, terutama dari sektor teknologi.
“Asia menghadapi sesi perdagangan yang kembali sulit,” kata Weston dilansir reuters, Kamis (15/10/2026).
Ia menambahkan, kontrak berjangka KOSPI dan Nikkei menunjukkan potensi pelemahan lanjutan pada saham teknologi.
Menurutnya, arus dana pada leveraged exchange-traded fund (ETF) serta risiko kredit dalam pembiayaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Selain itu, tekanan di pasar Asia mengikuti pelemahan bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya.
Wall Street mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah data inflasi konsumen AS pada September menunjukkan kenaikan yang melampaui ekspektasi.
Alhasil, kenaikan inflasi dan prospek suku bunga yang lebih tinggi turut menekan saham perusahaan teknologi yang sensitif terhadap biaya pinjaman, termasuk Oracle dan CoreWeave.
Kekhawatiran investor terhadap kebutuhan pendanaan perusahaan berbasis AI juga menjadi salah satu faktor yang membebani sektor tersebut.
Analis JPMorgan menyebut kenaikan inflasi AS menjadi pemicu awal aksi jual. Namun, tekanan pada saham teknologi menjadi faktor utama yang memperdalam pelemahan pasar.
“AI kembali menjadi tantangan utama, dengan risiko pendanaan dan jadwal penawaran umum perdana (IPO) masih menjadi pusat perhatian,” tulis analis JPMorgan dalam catatan risetnya.