- Prabowo mengganti Darmawan Prasodjo dengan Suroso Isnandar sebagai Dirut PLN.
- Darmawan menjabat sejak Desember 2021 dan pernah menjadi orang dekat Jokowi.
- Prabowo meminta transformasi PLN, efisiensi bisnis, dan percepatan panel surya 100 GW.
Suara.com - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dicopot dari jabatannya di tengah rencana besar pemerintah merombak model bisnis perusahaan listrik pelat merah tersebut. Pergantian ini terjadi saat PLN menghadapi tuntutan peningkatan efisiensi, percepatan energi surya, hingga pengurangan beban subsidi listrik.
Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (14/10/2026), posisi Darmawan digantikan oleh Suroso Isnandar. Pergantian pucuk pimpinan ini berlangsung setelah Suroso menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada sore hari yang sama.
Komisaris Independen PLN Andi Arief membenarkan pergantian tersebut. Rapat pemegang saham digelar secara daring dan dihadiri jajaran direksi, komisaris, serta perwakilan Badan Pengaturan BUMN.
"Iya, pergantian dirut. Pak Darmawan digantikan oleh Pak Suroso," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Rabu (14/10/2026).
Suroso untuk sementara juga merangkap jabatan sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN hingga ada pejabat pengganti.
Pergantian ini menjadi sorotan karena Darmawan telah memimpin PLN sejak Desember 2021. Sebelum masuk ke perusahaan listrik negara, ia dikenal sebagai mantan kader PDI Perjuangan dan pernah menjadi bagian dari tim pendukung serta tim ahli debat pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014. Ia kemudian menjabat Deputi I Kepala Staf Kepresidenan pada 2015–2019.
Namun, pergantian pimpinan bukan satu-satunya persoalan yang kini dihadapi PLN. Pemerintahan Prabowo juga menuntut perusahaan melakukan transformasi menyeluruh, terutama pada model bisnis, efisiensi operasional, dan produktivitas.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, dalam pertemuan dengan Prabowo, pemerintah membahas percepatan transformasi PLN, termasuk akselerasi penggunaan panel surya berkapasitas 100 gigawatt (GW).
"Kita membicarakan bagaimana pertama mengakselerasi transformasi di PLN untuk menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih tanggap, dan juga mengakselerasi penggunaan 100GW solar panel," ujar Rosan.
Prabowo, kata Rosan, meminta rancangan perubahan model bisnis PLN segera disusun dan dipaparkan untuk ditindaklanjuti. Danantara akan berkoordinasi dengan jajaran PLN guna mengkaji pembenahan perusahaan secara menyeluruh.
"Nanti kami dari Danantara tentunya akan duduk dengan tim dari PLN agar transformasi ini bisa dilakukan secara menyeluruh, sehingga ini juga bisa mengurangi subsidi atau dalam rangka meningkatkan efisiensi dan juga produktivitas di PLN," katanya.
Target tersebut menjadi pekerjaan besar bagi manajemen baru. Sebab, transformasi PLN tidak hanya berkaitan dengan pergantian direksi, tetapi juga menyangkut bagaimana perusahaan menjaga keandalan pasokan listrik, meningkatkan produktivitas, dan menjalankan agenda transisi energi tanpa memperbesar tekanan terhadap anggaran negara.
Ambisi mempercepat pemasangan panel surya hingga 100 GW juga menuntut perencanaan investasi, kesiapan jaringan, dan pengelolaan sistem kelistrikan yang matang. Tanpa perencanaan yang terukur, target besar berisiko menambah tantangan implementasi bagi perusahaan.
Di sisi lain, Rosan menyoroti kesiapsiagaan PLN menghadapi kondisi darurat. Menurutnya, perusahaan telah memiliki mekanisme antisipasi, tetapi rencana cadangan tersebut masih perlu disempurnakan demi menjaga keandalan layanan listrik di seluruh Indonesia.
"Pasti sudah ada tapi yang itu perlu disempurnakan lah," imbuhnya.