Analis Nilai MSCI Belum Puas Reformasi Pasar Modal RI

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 14:55 WIB
Analis menilai MSCI belum puas soal reformasi pasar modal RI.[Ist/Antara]
BACA 10 DETIK
  • Analis Mirae Asset Muhammad Nafan Aji menyatakan MSCI menilai reformasi pasar modal Indonesia masih belum memuaskan.
  • MSCI mengusulkan klasifikasi Standalone Market bagi Indonesia karena masalah transparansi dan penegakan hukum belum terselesaikan.
  • BEI, OJK, KSEI, dan pemerintah didesak mengambil langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan investor internasional.

Suara.com - Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji menilai MSCI tampaknya belum puas dari tranformasi pasar modal yang dijalankan otoritas. Terutama, masih belum transparannya kepemilikan saham yang terkonsentrasi tinggi.

Selain itu, Nafan menilai adanya dugaan perdagangan terkoordinasi yang berpotensi mengganggu pembentukan harga, serta belum terlihatnya bukti penegakan hukum yang memadai jadi alasan MSCI belum senang terhadap transformasi yang ada.

"Karena itu, MSCI memandang bahwa penurunan ke Frontier Market belum cukup merefleksikan tingkat persoalan yang ada, sehingga mengusulkan klasifikasi Standalone Market," katanya saat dihubungi Suara.com, Jumat (16/10/2026).

Analis menilai MSCI belum puas soal reformasi pasar modal RI. [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]

Dia menekankan bahwa opsi MSCI menunjukkan kondisi ini menjadi peringatan serius bahwa reformasi pasar modal Indonesia selama ini belum cukup meyakinkan investor institusional global dari sisi implementasi dan hasil nyata.

Adapun, upaya reformasi yang telah dilakukan gagal, tetapi pengumuman kebijakan dan perubahan regulasi saja tidak cukup untuk mempertahankan kepercayaan pasar

"Investor global membutuhkan bukti bahwa struktur kepemilikan semakin transparan, free float benar-benar mencerminkan saham yang tersedia untuk diperdagangkan, manipulasi pasar ditindak secara konsisten apabila terbukti, dan mekanisme pembentukan harga berlangsung secara wajar," katanya.

Dengan demikian, tantangan Indonesia saat ini adalah mempersempit kesenjangan antara reformasi yang diumumkan dan perbaikan yang benar-benar dirasakan pelaku pasar.

"Oleh karena itu, BEI bersama OJK, KSEI, dan pemerintah perlu merespons persoalan ini melalui langkah yang konkret, terukur, dan dapat diverifikasi oleh investor internasional," tegasnya

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com