IHSG Era Prabowo Ambruk 11,6%, Membayangi Kejatuhan Saham di Zaman Soeharto

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 16:29 WIB
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • IHSG era Prabowo anjlok 11,57%, terdalam sejak krisis moneter 1998.
  • MSCI mengancam status Indonesia, memicu kekhawatiran arus keluar modal asing.
  • Krisis 1998 dipicu rupiah dan perbankan; gejolak 2026 menyoroti tata kelola bursa.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami salah satu kejatuhan terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia pada era Presiden Prabowo Subianto. Pada Jumat (16/10/2026), IHSG ambles 11,57% ke level 5.199,96, mengingatkan investor pada kejatuhan pasar saham saat krisis moneter 1998 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.

Berdasarkan data perdagangan yang dikutip sejumlah media, IHSG pada 16 Oktober 2026 mencatatkan penurunan harian terdalam sejak 8 Januari 1998. Kala itu, IHSG ambruk 11,88% hingga ditutup di level 347,11, ketika Indonesia dilanda krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi dan politik.

Meski besaran penurunannya hampir sama, pemicu kedua peristiwa tersebut berbeda. Pada era Prabowo, tekanan terbaru dipicu kekhawatiran terhadap transparansi pasar modal dan ancaman penurunan status Indonesia dalam indeks global. Sementara itu, pada era Soeharto, kejatuhan IHSG terjadi di tengah krisis mata uang, perbankan, dan kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia bukan muncul secara tiba-tiba pada Oktober 2026. Sebelumnya, pasar telah menghadapi gejolak sejak awal tahun, termasuk kekhawatiran investor global terhadap struktur kepemilikan saham dan transparansi perdagangan.

Pada Januari 2026, penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti persoalan transparansi pasar saham Indonesia, termasuk rendahnya porsi saham beredar atau free float serta konsentrasi kepemilikan saham. Kekhawatiran ini memicu tekanan terhadap saham domestik dan meningkatkan risiko perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks global.

Pada Oktober, tekanan kembali meningkat setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Perubahan tersebut berpotensi membuat saham Indonesia dikeluarkan dari indeks utama MSCI yang menjadi acuan investasi banyak pengelola dana global.

Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran arus keluar modal asing. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG dibuka dengan tekanan jual besar hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Indeks kemudian ditutup anjlok 11,57% ke level 5.199,96.

Reuters melaporkan, potensi perubahan klasifikasi MSCI berkaitan dengan persoalan tata kelola dan transparansi pasar. Otoritas pasar modal Indonesia pun menghadapi desakan untuk menunjukkan perbaikan yang terukur agar kepercayaan investor dapat dipulihkan.

Kejatuhan IHSG pada Januari 1998 merupakan bagian dari krisis moneter Asia yang mulai mengguncang kawasan sejak 1997.

Pertama, krisis mata uang Asia merebak. Krisis bermula dari tekanan terhadap baht Thailand pada Juli 1997 dan kemudian menjalar ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Rupiah tertekan tajam, meningkatkan beban utang perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar Amerika Serikat.

Kedua, rupiah dan sektor perbankan terpukul. Pelemahan mata uang memperburuk kondisi perusahaan dan perbankan. Ketidakpastian meningkat, sementara investor semakin khawatir terhadap kemampuan dunia usaha memenuhi kewajiban keuangannya.

Ketiga, pemerintah meminta bantuan IMF. Pada akhir 1997, Indonesia menjalin program bantuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, langkah penanganan krisis belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Persoalan perbankan dan ketidakpastian kebijakan terus membayangi perekonomian.

Keempat, IHSG ambruk pada 8 Januari 1998. Indeks anjlok 11,88% ke level 347,11. Tekanan jual berlangsung di tengah pelemahan rupiah dan kekhawatiran investor terhadap respons pemerintah dalam menghadapi krisis. Pengumuman rancangan anggaran negara 1998/1999 pada periode tersebut juga dinilai belum menjawab persoalan ekonomi yang memburuk.

Kelima, krisis berkembang menjadi krisis politik. Tekanan ekonomi terus membesar sepanjang 1998. Krisis kepercayaan, gejolak sosial, dan tuntutan reformasi akhirnya berujung pada pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998, setelah sekitar 32 tahun berkuasa.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com