- Akun resmi Setkab menyampaikan ucapan ulang tahun kepada Presiden Prabowo Subianto dengan sebutan Sang Patriot.
- Penggunaan sapaan tersebut memicu berbagai sindiran tajam dari warganet terkait masalah kebakaran hutan.
- Netizen juga meluapkan kritik mengenai antrean bahan bakar minyak yang merugikan perekonomian masyarakat.
Suara.com - Ucapan selamat ulang tahun dari akun Sekretariat Kabinet (Setkab) Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto menuai beragam reaksi di media sosial.
Akun resmi Setkab menyebut diri mereka Setkab Gengs dan memberikan ucapan ulang tahun kepada Presiden Prabowo Subianto.
Sebutan “Sang Patriot” yang disematkan dalam ucapan tersebut justru memancing sindiran tajam warganet, mulai dari persoalan kebakaran hutan hingga antrean bahan bakar minyak (BBM).
“Keluarga besar Setkab Gengs mengucapkan selamat ulang tahun untuk Sang Patriot, Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto,” tulis akun tersebut.
Setkab juga berharap Prabowo dapat mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur.
Namun, pilihan kata Sang Patriot dan Setkab Gengs justru menjadi sorotan sejumlah netizen yang mengaitkannya dengan berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.
Salah satu komentar yang mencuri perhatian meminta Prabowo meniup api kebakaran hutan hingga padam. Sindiran tersebut disertai gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan wajah Prabowo sedang meniup api kebakaran hutan.
“Tiup apinya, Pak,” tulis seorang netizen.
Gambar itu juga dilengkapi tulisan, “Ayo tiup apinya sampai padam.” Sindiran tersebut menyentil persoalan kebakaran hutan dan lahan yang menjadi perhatian publik, terutama di tengah dampak kabut asap lintas batas.
Komentar lainnya menyoroti makna patriotisme yang dinilai seharusnya tercermin dalam upaya memperbaiki kondisi negara dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Patriot tuh berjuang demi kemakmuran, kemajuan, kehormatan bangsa. Ini kok malah bikin negara makin amburadul,” tulis netizen lainnya.
“Pak si paling patriot, tolong untuk energi dan BBM dibenerin dulu itu sistemnya, kami di Bali udah pontang-panting ini antre BBM. Entah berapa sudah kerugian ekonomi yang provinsi ini rasakan karena mobilitas ya mandek,” tulis akun lainnya.