- Pemerintah mendorong hilirisasi industri agro untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
- CEO CIPS Anton Sulaiman menyatakan tantangan utama hilirisasi adalah ketersediaan bahan baku serta penguatan sektor hulu yang belum optimal.
- Ekspor kopi, teh, dan rempah nasional meningkat 54,44 persen, sementara sektor pertanian kumulatif mengalami penurunan sebesar 26,27 persen.
Ekspor nonmigas juga tumbuh 13,66 persen secara bulanan. Sejumlah komoditas mencatatkan kenaikan, termasuk kopi, teh, dan rempah-rempah yang meningkat 54,44 persen serta tembakau dan rokok yang naik 43,49 persen. Secara kumulatif, ekspor nonmigas Indonesia mencapai 87,74 miliar dolar AS selama Januari hingga April 2026, tumbuh 6,28 persen.
Di sisi lain, ekspor sektor pertanian secara kumulatif mengalami penurunan 26,27 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan industri pengolahan agar komoditas agro Indonesia dapat menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Potensi hilirisasi juga terlihat dari industri cerutu di Jember, Jawa Timur. Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan, 90 persen hasil pabrikan cerutu di wilayahnya ditujukan untuk pasar ekspor.
"Jember kini mengukuhkan diri sebagai daerah pengisi pasar ekspor cerutu terbesar di Indonesia. Produk kita sudah menembus hampir 45 negara, termasuk pengiriman terbaru ke Amerika Serikat, Timur Tengah, Eropa seperti Yunani dan Jerman hingga Tiongkok serta kawasan ASEAN," pungkasnya.