Harga Gas Industri Sempat Tembus US$23, PGN Amankan 20 Kargo LNG

Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:55 WIB
Group Head Gas Supply and LNG Trading PGN, Muhammad Anas Pradipta. Foto Yaumal-Suara.com
BACA 10 DETIK
  • PGN amankan hampir 20 kargo LNG untuk pasokan domestik hingga akhir 2026.
  • Harga LNG industri sempat tembus US$23/MMBTU dan membebani pelaku usaha.
  • Proyek biometana PGN di Sumsel ditargetkan beroperasi pada 2027.

Suara.com - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengamankan hampir 20 kargo liquefied natural gas (LNG) untuk menjaga pasokan gas dalam negeri hingga akhir 2026. Langkah ini dilakukan setelah harga LNG untuk industri sempat melonjak hingga US$23 per million British thermal unit (MMBTU) dan memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha industri nasional.

Group Head Gas Supply and LNG Trading PGN, Muhammad Anas Pradipta, mengatakan pasokan LNG tersebut berasal dari sejumlah kilang domestik, mulai dari Donggi Senoro, Tangguh, hingga Badak. Selain pasokan LNG, kondisi pasokan gas pipa juga disebut sedang baik.

"Pokoknya hampir 20-an (kargo). Sudah secure (aman). Harganya juga sudah dijamin-kan oleh pemerintah," kata Anas kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Meski pasokan diklaim aman, persoalan harga gas masih menjadi tantangan bagi industri. Pada akhir Juni lalu, harga LNG untuk sektor industri sempat berada di kisaran US$20-23 per MMBTU.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menyebut tingginya harga tersebut dipengaruhi besarnya biaya rantai pasok, mulai dari proses pencairan gas, pengangkutan kargo, hingga regasifikasi.

Lonjakan harga energi itu sempat dikeluhkan pelaku industri karena berisiko meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing. Bahkan, beban energi yang semakin mahal dikhawatirkan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Merespons kondisi tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengintervensi harga LNG industri menjadi US$13 per MMBTU untuk menjaga keberlangsungan industri nasional dan lapangan kerja.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan penyesuaian harga itu tidak dilakukan melalui subsidi, melainkan dengan menekan biaya rantai pasok dari hulu hingga hilir, termasuk mengefisienkan porsi biaya penyalur seperti PGN.

Di tengah tantangan harga gas, PGN juga tengah mengembangkan bisnis energi alternatif melalui proyek komersialisasi biometana berbasis limbah kelapa sawit di Sumatera Selatan. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Anas mengatakan perseroan kini memfinalisasi kesepakatan kerja sama utama proyek tersebut. Seluruh produksi biometana yang direncanakan juga telah memiliki calon pembeli atau offtaker, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa Barat.

"Proyek PGN untuk biometana di Sumatera Selatan targetnya on stream di 2027. Pembelinya pun sudah ada dan siap, seperti pembeli gas di Jawa Barat," ujar Anas.

Proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi PGN dengan grup perusahaan asal Jepang. Dalam skema bisnisnya, PGN berfokus menyediakan infrastruktur transmisi dan pengangkutan gas melalui jaringan pipa. Sementara itu, produsen akan mengolah limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) menjadi biometana, kemudian menyalurkannya ke titik koneksi pipa PGN.

Namun, produksi biometana memiliki tantangan tersendiri karena bergantung pada siklus panen kelapa sawit. Kapasitas rata-rata proyek dirancang sebesar 1 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), tetapi dapat berfluktuasi antara 0,5 MMSCFD hingga 2 MMSCFD.

PGN akan mengandalkan pembeli utama untuk menyerap produksi dasar, sementara kelebihan produksi berpotensi dialokasikan untuk kebutuhan tambahan.

Pengembangan proyek ini telah memasuki tahap konstruksi awal melalui kolaborasi dengan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS). Peletakan batu pertama fasilitas pabrik biometana tersebut dilakukan pada 5 Oktober 2026.

Fasilitas pengolahan limbah organik kelapa sawit itu diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 MMBTU per tahun. Proyek ini menjadi inisiatif komersialisasi biometana berbasis limbah sawit pertama di Sumatera, sekaligus menindaklanjuti nota kesepahaman PGN dan TTI yang ditandatangani pada 2022.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com