- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan gejolak pasar modal akibat sentimen MSCI tidak mengganggu perekonomian nasional secara keseluruhan.
- Pemerintah menerbitkan kebijakan strategis untuk menenangkan pasar sehingga IHSG kembali menguat dan pelemahan rupiah mulai mereda.
- Indonesia memperluas akses pasar internasional melalui perjanjian dagang dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk menghadapi ketidakpastian global.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai gejolak pasar modal tidak mengganggu perekonomian nasional secara keseluruhan.
Ia menjelaskan, sentimen negatif terkait MSCI merupakan salah satu dinamika yang terjadi di pasar keuangan. Namun, menurut dia, kondisi tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai perekonomian Indonesia.
"Memang dari segi sentimental seperti yang kemarin dibahas, ada riak-riak seperti MSCI, tetapi kan itu bukan sesuatu yang mengganggu secara keseluruhan dan banyak rating agensi lain juga bisa menilai perekonomian kita," ujar Airlangga di Istana Negara, Rabu (21/10/2026).
Airlangga menyebut IHSG mulai menunjukkan penguatan dan pelemahan rupiah mulai mereda. Hal ini, setelah otoritas mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sesuai keinginan investor.
"Ya, tentu gini, kita menenangkan pasar dan hari ini kan kita lihat juga sudah berada di dalam jalur hijau. Nilai rupiah kan sekarang juga sudah melandai sedikit," jelasnya.
Di sisi lain, Airlangga menyoroti upaya pemerintah memperkuat hubungan dagang dengan mitra internasional. Indonesia telah menjalin Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat serta Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dengan Uni Eropa.
"Dengan Amerika kan kita sudah ada ART, dengan Eropa kita ada EU-CEPA. Jadi di tengah situasi yang tidak menentu ini, Indonesia bisa memastikan kerja sama dan membuka akses pasar secara luas," bebernya.
Airlangga juga meminta pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya bekerja sama menghadapi ketidakpastian global yang diperkirakan masih berlanjut hingga tahun depan.
"Karena situasi geopolitik tidak akan berubah untuk memasuki tahun depan," katanya.
Sebelumnya, IHSG mengalami tekanan tajam menyusul pengumuman MSCI yang membuka konsultasi untuk mengubah status pasar saham Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri.
IHSG sempat anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026). Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026), ketika indeks kembali turun 3,64 persen ke level 4.996,61, sebelum berbalik menguat 5,65 persen ke level 5.278 pada Selasa (20/10/2026).