Haji Isam dan Kedekatannya dengan Para Petinggi Bank Mandiri

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 13:47 WIB
Kedekatan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam dengan sejumlah petinggi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menarik perhatian para investor dalam negeri. Foto Suara.com/AI
BACA 10 DETIK
  • Haji Isam disebut sebagai nasabah prioritas Bank Mandiri dengan saldo puluhan miliar rupiah.
  • Saham JARR dan PGUN dijaminkan untuk fasilitas kredit kepada Jhonlin Baratama.
  • Gadai saham mencuat di tengah akuisisi 30,25% saham BYAN senilai Rp26,10 triliun.

Suara.com - Kedekatan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam dengan sejumlah petinggi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menarik perhatian para investor dalam negeri.

Perhatian tertuju pada transaksi gadai saham dua emiten yang terafiliasi dengan kelompok usaha Jhonlin, yakni PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), di tengah aksi pembelian 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Sumber Suara.com mengatakan baik Haji Isam maupun korporasinya merupakan salah satu nasabah prioritas yang dimiliki Bank Mandiri yang mendapatkan keistimewaan. Haji Isam menurutnya memiliki saldo rata-rata bulanan mencapai puluhan miliar.

"Haji Isam dan Group-nya merupakan salah satu nasabah prioritas," sebut sumber itu, Jumat (23/10/2026).

Gedung Bank Mandiri. (Dok: Bank Mandiri)

Dikatakan Haji Isam memiliki Fund Under Management (FUM) atau dana kelolaan seperti total nilai uang, aset, atau instrumen keuangan lainnya. Di dunia perbankan Indonesia, FUM sering digunakan sebagai syarat utama bagi nasabah untuk bergabung dengan layanan eksklusif.

Setali tiga uang, korporasi group Haji Isam juga memiliki hubungan yang sangat spesial dengan Bank Mandiri. Hal itu terlihat dari seringnya Bank Mandiri menggelontorkan fasilitas kreditnya.

Dokumen publik juga mencatat fasilitas kredit agunan surat berharga yang diterima JARR pada 2021–2022 dengan nilai gabungan Rp1,2459 triliun.

Berdasarkan prospektus JARR 2022 dan laporan keuangan perusahaan pada 2023, terdapat dua kelompok fasilitas kredit yang dapat ditelusuri.

Pertama, fasilitas senilai Rp837,4 miliar yang berkaitan dengan perjanjian kredit pada Desember 2021. Fasilitas tersebut ditujukan untuk kebutuhan operasional perusahaan, dengan jangka waktu 60 bulan dan jatuh tempo pada 22 Desember 2026.

Kedua, fasilitas senilai Rp408,5 miliar yang ditandatangani pada Januari 2022. Kredit tersebut juga digunakan untuk kebutuhan operasional JARR, dengan jangka waktu 108 bulan dan jatuh tempo pada Desember 2030.

Nilai kedua kelompok fasilitas itu mencapai Rp1,2459 triliun. Angka tersebut merupakan nilai fasilitas yang terungkap dalam dokumen, bukan saldo utang JARR saat ini ataupun total seluruh kredit Bank Mandiri kepada Jhonlin Group selama satu dekade terakhir.

Dokumen yang sama juga menyebut deposito atas nama PT Jhonlin Group, PT Jhonlin Marine Trans, dan H. Samsudin Andi Arsyad digunakan sebagai agunan pada sejumlah perjanjian.

Perhatian terhadap hubungan Bank Mandiri dan kelompok usaha Haji Isam kembali menguat setelah PT Jhonlin Baratama memperoleh fasilitas kredit dari bank tersebut pada 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi perjanjian kredit dan akta gadai saham disebut ditandatangani pada 28 September 2026. Informasi mengenai gadai saham kemudian diungkapkan pada 7 Oktober 2026.

Dalam transaksi itu, saham JARR dan PGUN menjadi bagian dari agunan fasilitas kredit kepada Jhonlin Baratama. Selain saham, agunan yang disebutkan Bank Mandiri mencakup aset tetap, aset non-tetap, dan rekening perusahaan.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pemegang saham pengendali JARR dan PGUN menggadaikan saham mereka kepada Bank Mandiri pada 30 September 2026. Aksi tersebut menjadi bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit bagi perusahaan terafiliasi kelompok usaha Jhonlin.

PT Eshan Agro Sentosa menjaminkan 7,99 miliar saham JARR, sedangkan tiga pemegang saham pengendali PGUN menjaminkan total sekitar 5,30 miliar saham. Jumlah tersebut mencakup seluruh kepemilikan saham masing-masing pihak yang dijaminkan di kedua emiten tersebut.

Transaksi gadai itu mencuat setelah Jhonlin Baratama, perusahaan afiliasi kelompok usaha Haji Isam, mengakuisisi 10,08 miliar saham BYAN atau setara 30,25% kepemilikan dari kelompok Low Tuck Kwong. Transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp2.588 per saham melalui pasar negosiasi BEI pada 7 Oktober 2026.

Dengan harga transaksi tersebut, nilai pengalihan saham BYAN mencapai sekitar Rp26,10 triliun. Besarnya nilai transaksi membuat struktur pendanaan dan jaminan yang melibatkan perusahaan-perusahaan afiliasi Jhonlin menjadi perhatian pelaku pasar.

Bank Mandiri menyatakan fasilitas kredit tersebut ditujukan untuk belanja modal dan kebutuhan pembiayaan perusahaan serta kelompok usaha di industri batu bara dan sektor pendukungnya. Bank juga menegaskan kredit itu bukan fasilitas yang secara khusus ditujukan untuk perdagangan saham.

Langkah bisnis pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam sepanjang 2026 semakin sulit dipandang sebagai aksi investasi yang berdiri sendiri. Desain Suara.com/AI

Dalam penjelasannya, Bank Mandiri menyebut penilaian kredit dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan membayar debitur, prospek usaha, kinerja keuangan, EBITDA, potensi dividen dari anak usaha, serta kecukupan agunan.

Di tengah transaksi itu kedekatan Haji Isam dan para petinggi Bank Mandiri juga terlihat dari viralnya video lama, dimana memperlihatkan Haji Isam sedang menyopiri sejumlah pejabat Bank Mandiri, termasuk mantan Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi dan Riduan, yang saat ini menjabat Direktur Utama bank pelat merah tersebut.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com