Kilang Balikpapan Hampir Rampung, Impor Bensin RI Berpotensi Turun Separuh

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:48 WIB
RDMP Kilang Balikpapan. [Pertamina]
BACA 10 DETIK
  • Menteri Bahlil Lahadalia menyatakan progres RDMP Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur telah mencapai 99 persen pada Sabtu.
  • Proyek kilang senilai Rp123 triliun ini meningkatkan kapasitas produksi serta kualitas bahan bakar menjadi standar Euro 5.
  • Pengoperasian kilang tersebut mampu menghemat devisa negara hingga Rp60 triliun dan menekan ketergantungan impor bensin nasional.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyebut progres pengerjaan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Pertamina Balikpapan telah mencapai 99 persen.

Saat ini, proyek tersebut tinggal menyelesaikan beberapa tahap akhir penyempurnaan teknis.

"InsyaAllah, kita selesaikan agar kilang ini dapat semakin memperkuat pasokan energi nasional,” kata Bahlil di Balikpapan, Kalimantan Timur yang dikutip pada Sabtu (24/10/2026).

Bahlil meninjau RDMP Balikpapan untuk memastikan kesiapan kilang sekaligus mengevaluasi ketersediaan stok BBM di wilayah Kalimantan.

Disebutnya, ketersediaan BBM di Balikpapan dalam keadaan aman. Meski di Kalimantan Barat terdapat hambatan distribusi karena mengeringnya aliran Sungai Kapuas.

"Tapi kita sudah berubah caranya. Tadi saya tanya Pertamina, mereka menjadikan kapal sebagai penampungan, habis itu baru redistribusi pakai mobil lewat darat," ujar Bahlil.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. [Suara.com/Achmad Fauzi].

RDMP Kilang Balikpapan diresmikan Presiden Prabowo Subianto 12 Januari lalu. Mega proyek bernilai investasi 7,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp123 triliun ini menjadi proyek pengembangan kilang terbesar di Indonesia.

Melalui investasi tersebut, kapasitas produksi Kilang Balikpapan meningkat signifikan dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.

Tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, proyek ini juga menaikkan kualitas BBM yang dihasilkan dari standar Euro 2 (kandungan sulfur 2.500 ppm) menjadi Euro 5 (kandungan sulfur 10 ppm).

Peningkatan mutu bahan bakar ramah lingkungan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mendukung target Net Zero Emission.

Dari sisi ekonomi, pengoperasian kilang diperkirakan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 60 triliun.

Peningkatan kapasitas sebesar 100 ribu barel per hari ini memasok sekitar 5,8 juta kiloliter bensin per tahun, yang secara langsung menekan ketergantungan impor bensin nasional dari total kebutuhan 38 juta kiloliter menjadi 19 juta kiloliter.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com