Kericuhan pecah sebelum kick off laga leg kedua babak final Copa Libertadores pada 2018 antara dua raksasa Liga Argentina, River Plate vs Boca Juniors di Stadion Monumental Antonio Vespucio Liberti.
Sejumlah suporter River Plate menyerang bus Boca Juniors sebelum memasuki stadion, para aparat keamanan juga berusaha menghalau para suporter yang berusaha menyerang pemain Boca Juniors.
Di sosial media juga tergambar bagaimana panasnya kondisi sekitaran Stadion Monumental Antonio Vespucio Liberti, ada sebuah video juga yang memperlihatkan seorang anak perempuan berjersey River Plate tengah dipasangi petasan berukuran besar di sekujur tubuhnya oleh seorang perempuan.
Selain itu ada juga video yang menggambarkan barisan aparat keamanan membentuk pagar betis di tengah jalan untuk menghalau hujanan batu yang dilempar para suporter.
Konflik antar suporter di Argentina lebih mengakar dan rekam jejak panjang yang berdarah-darah. Bahkan pada Juni 2011, Menteri Pertahanan Argentina kala itu, Nilda Garre sampai mengumumkan ibukota Argentina, Buenos Aires tengah berada di kondisi darurat. Saat itu, hasil imbang 1-1 antara River Plate vs Boca Juniors menyulut pecahnya bentrok antar dua suporter ini.
Pecahnya bentrok di Buenos Aires pada 2011 ini sebenarnya juga dipengarahui kondisi sosial politik Argentian kala itu. Akibat dari bentrok berdarah ini tercatat 55 suporter luka-luka, 35 polisi mengalami luka serius, serta 1 orang suporter merenggang nyawa.
Daerah utara kota Buenos Aires, yang dikenal sebagai tempat elite berubah menjadi medan perang. Sejumlah aparat keamanan dilengakapi dengan senjata lengkap dan kendaraan watercanon berusah meredam aksi suporter River Plate yang tak terima dengan hasil imbang, pasalnya hasil itu membuat River Plate terdegradasi ke kasta kedua Liga Argentina.
Kekerasan yang terjadi di 2011 ternyata kadarnya masih 'biasa'. Beberapa puluh tahun sebelumnya pada 1968 pecah insiden yang kemudian dikenal oleh publik Argentina dengan nama tragedi Puerta 12.
Pada laga kedua tim yang berlangsung di markas River, Stadion Monumental, markas River Plate tercatat 71 suporter Boca tewas serta ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga: Pertandingan Rusuh, Pelatih Liga Argentina Tertembak Pistol Fan
Apa yang menyebabkan tragedi mengerikan itu terjadi? Tak ada informasi yang valid dari aparat setempat soal penyebab kejadian tersebut namun sejumlah pihak mengklaim hal itu berkaitan dengan sikap sosial politik pendukung Boca kala itu.
Di pertandingan tersebut, para suporter Boca sepanjang laga bernyanyi untuk tokoh oposisi pemerintah Argentina kala itu, Juan Peron. Pihak polisi kemudian membalas aksi suporter Boca tersebut dengan tikaman dan aksi tak berperikemanusiaan.
"Tidak ada pintu, tidak ada batas, itu hanya polisi yang meronta-ronta dengan pisau." bunyi penggalan sebuah laga yang diciptakan suporter Boca usai tragedi mengerikan tersebut.
Penulis buku Memahami Dunia Lewat Sepakbola, Franklin Foer memang menjelaskan bahwa citra kekerasan dan percampuran sosial politik akan selalu jadi warna tersendiri di sepakbola negara-negara dunia ketiga seperti Argentina.
Fakta juga menunjukkan bahwa perbedaan pandangan politik, budaya, etnis, hingga agama jadi pertentangan yang menonjol di sepakbola Argentina.
Hal itu bisa terlihat misalnya dengan asumsi sejumlah pakar di Argentina yang mengkotak-kotakan gaya bermain pesepakbola di Argentina. Pemain dengan gaya mendribble bola sangat licin dan lincah disebut sebagai criollos (sebutan untuk penduduk asli Argentina) sedangkan yang rada kaku dan patah-patah dianggap sebagai bagian dari imigran Inggris.
Berita Terkait
-
Kronologi Kericuhan Diduga Suporter Sepak Bola Solo dengan Warga di Gejayan
-
Viral Bentrok Antarsuporter Bola di Stasiun Jatinegara, Anak Jakmania Diduga Ditendang Pendukung Persib
-
Liga 1 2022 Bergulir, Suporter Dukung Sistem Tiket Online: Jangan Bangga Menonton PSIS Semarang Secara Gratis, Bayar!
-
Profil Gabriel Milito, Eks-Pemain Barcelona yang Digelandang Polisi karena Ngamuk di Stadion
-
Profil Alexis Messidoro, Gelandang Anyar Persis Solo yang Pernah Satu Tim dengan Carlos Tevez
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Rekan Duet Jay Idzes di Sassuolo Sukses Lolos ke Piala Dunia 2026
-
Indonesia Marah Besar di PBB Setelah 3 Pasukan TNI Gugur Akibat Serangan Militer Israel
-
Ivan Gunawan ke Tasya Farasya: Lu Jadi Janda Happy Banget
-
Cara Autentikasi Andal by Taspen, Pensiunan Bisa Verifikasi dari Rumah Tanpa Antre
-
Jadwal Final Four Proliga 2026 seri Surabaya, Pertemuan 4 Tim Terbaik
-
Mendagri Terbitkan SE, Atur Ketentuan Transformasi Budaya Kerja bagi ASN Pemda
-
5 Vitamin Terbaik untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah
-
Pangkas Anggaran Besar-Besaran, Pemerintah Tetap Salurkan Bansos ke 22 Juta Keluarga
-
Badai PHK Setelah Lebaran: Saat Mesin Pabrik Berhenti dan Amarah Buruh Sukabumi Memuncak
-
Tak Semua ASN Bisa WFH, Ini Daftar Sektor Pelayanan Publik yang Tetap Wajib Masuk Kantor