Suara.com - Mantan gelandang Korea Selatan Park Ji-sung mendesak penggemar Manchester United berhenti menyanyikan lagu tentang dirinya yang berisi stereotip negatif tentang negaranya.
Pria 40 tahun itu mengatakan, lagu tersebut memiliki referensi tentang orang Korea yang memakan daging anjing, hal tersebut menyebabkan ketidaknyamanan saat dia berada di United.
Park tampil lebih dari 200 pertandingan untuk United pada 2005 hingga 2012, membantu mereka memenangi empat gelar Liga Premier dan Liga Champions pada 2008.
Park mengatakan, dirinya diminta untuk berbicara setelah mendengar penggemar United menyanyikan lagu tersebut di Molineux pada Agustus, ketika Wolverhampton Wanderers meluncurkan pemain baru Hwang Hee-chan dari Korea Selatan.
"Saya tahu bahwa penggemar United tidak bermaksud menyinggung dia melalui lagu itu, tetapi saya harus mendidik para penggemar untuk menghentikan perkataan yang akhir-akhir ini menjadi penghinaan rasial kepada orang-orang Korea," ujar Park kepada podcast klub, dikutip Antara dari Reuters, Senin (4/10/2021).
"Mendengarkan nyanyian tersebut bahkan 10 tahun kemudian, saya merasa kasihan kepada yang lebih muda karena mereka harus mengatasi ketidaknyamanan yang saya rasakan saat itu."
"Di Korea, banyak hal telah berubah. Memang benar bahwa secara historis kami telah memakan daging anjing, tetapi akhir-akhir ini, terutama generasi muda, mereka sangat tidak menyukainya. Itu menyebabkan ketidaknyamanan bagi orang Korea ketika mereka mendengar lagu itu," tambah Park.
Dijuluki "Three Lunged Park" oleh penggemar karena permainan yang luar biasa, gelandang Korea Selatan ini pensiun pada 2014 sebagai pemain Asia yang paling banyak mendapat penghargaan dengan 19 trofi.
Baca Juga: Real Madrid Tumbang, Ancelotti Dipusingkan Masalah Kebugaran Eduardo Camavinga
Berita Terkait
-
Nacific Berasal dari Mana? Brand yang Jadi Incaran Pecinta Skincare
-
Film 402 Rumah Sakit Angker Korea Resmi Jadi Horor Terkeren Anggy Umbara!
-
Reborn Rookie: Kisah Konglomerat yang Terlahir Kembali sebagai Karyawan Baru
-
Ulasan Drama Korea Evilive: Menelusuri Sisi Gelap Seorang Pengacara
-
Lampaui Colony, HOPE Jadi Film Tercepat Raih 1 Juta Penonton di 2026
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Menemukan 'Healing' Tipis-Tipis di Balik Jendela MRT dan LRT
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja
-
Kursi Kosong yang Memicu Amuk Dewan: Saat Sekda Sumenep Dihantam Mosi Tak Percaya
-
Kursi Gibran 'Didepak' dari sisi Prabowo, Pengamat: Bobot Kekuasaannya Direduksi
-
4 Rekomendasi HP dengan RAM Besar dan Harga Terjangkau: Performa Lancar Cuma Rp1 Jutaan
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
-
JPMorgan Naikkan Rating BBRI ke Overweight, Target Harga Saham Tinggi
-
Soal Kuntadi Jadi Jampidsus, Dasco: Itu Kewenangan Presiden
-
KPK Dalami Amplop Dolar Raja Juli, Berpotensi Jadi Kasus Baru
-
Krisis Peserta Didik, SDN 127 Pekanbaru Cuma Terima 4 Murid Baru