Namun jumlah denda yang didapat Persebaya lebih banyak dari Bali United, yakni sekitar Rp655 juta.
3. PSS Sleman (Rp725 Juta)
PSS Sleman benar-benar bernasib buruk di Liga 1 2024, selain terdegradasi ke kasta kedua, Liga 2 musim ini.
Klub berjuluk Super Elang Jawa ini juga harus menerima kenyataan membayar denda besar di Liga 1 2024.
PSS Sleman harus membayar sebanyak Rp725 juta untuk denda sepanjang kompetisi di musim lalu.
2. Persija Jakarta (Rp835 Juta)
Di peringkat kedua, klub dengan denda terbanyak di Liga 1 2024 adalah Persija Jakarta.
Persija Jakarta berakhir sebagai penghuni peringkat ketujuh klasemen akhir Liga 1 musim lalu.
Skuad Macan Kemayoran harus membayar denda sebanyak Rp835 juta kepada Komdis PSSI.
Baca Juga: 3 Keuntungan Persija Jakarta usai Dilaporkan Sudah Deal Lisan dengan Jordi Amat
1. Persib Bandung (Rp1,125 Miliar)
Persib Bandung merupakan juara Liga 1 2024, klub dengan torehan prestasi back-to-back gelar.
Meski begitu, Persib juga menjadi klub dengan jumlah denda terbanyak di Liga 1 2024.
Klub berjuluk Maung Bandung itu harus membayar denda senilai Rp1,125 miliar.
itulah lima klub Liga 1 dengan jumlah denda terbanyak sepanjang musim 2024/2025.
Jumlah denda yang besar ini tentu menjadi sorotan tersendiri. Meski mampu dibayarkan, angka-angka tersebut mencerminkan masih banyaknya pelanggaran disiplin yang terjadi di kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia.
Pelanggaran yang menyebabkan denda ini umumnya berasal dari berbagai faktor, mulai dari perilaku suporter yang melanggar aturan, protes berlebihan terhadap wasit, keterlambatan kick-off, hingga pelanggaran administratif lainnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya disiplin dan profesionalisme di dalam maupun luar lapangan masih perlu ditingkatkan. Apalagi, PSSI lewat Komite Disiplin (Komdis) telah menunjukkan sikap tegas tanpa pandang bulu dalam menerapkan sanksi.
Total Rp6,83 miliar yang berhasil dikumpulkan Komdis PSSI dari 18 klub menjadi bukti bahwa Liga 1 masih menghadapi tantangan serius soal pembinaan mental dan kedisiplinan klub serta suporternya.
Dengan kompetisi Liga 1 2025/2026 akan segera bergulir Agustus mendatang, besar harapan agar klub-klub bisa lebih tertib dan profesional dalam menyikapi aturan yang berlaku.
Denda bukan hanya soal nominal uang, tapi juga menyangkut citra klub dan kepercayaan publik terhadap jalannya kompetisi.
Jika dikelola lebih disiplin, dana miliaran yang sebelumnya digunakan untuk membayar denda bisa dialihkan untuk pengembangan pemain muda, infrastruktur klub, atau peningkatan kualitas pertandingan.
Kini, tinggal bagaimana masing-masing klub mengambil pelajaran dari musim lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di musim berikutnya.
Kontributor: Eko
Berita Terkait
-
3 Keuntungan Persija Jakarta usai Dilaporkan Sudah Deal Lisan dengan Jordi Amat
-
Here We Go! Persija Segera Umumkan Jordi Amat, Thom Haye Menyusul?
-
Dampingi Bojan Hodak Latih Persib, Mario Jozic Akui Betah di Bandung
-
Tinggalkan Persib Bandung, Edo Febriansah Pertimbangkan Ini saat Pilih Dewa United
-
Mendadak Ingin Seperti Teco di Persija, Ada Apa dengan Mauricio Souza?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik