Bola / Bola Indonesia
Kamis, 05 Februari 2026 | 07:14 WIB
Pemain keturunan Indonesia (Antara)
Baca 10 detik
  • Pemain keturunan Timnas Indonesia berbondong-bondong pindah ke Super League karena gaji besar.

  • Pengamat menilai perpindahan dari Eropa ke Indonesia sebagai kemunduran kualitas karier pemain.

  • Kebutuhan menit bermain reguler menjadi alasan kuat pemain diaspora memilih klub lokal.

Suara.com - Fenomena perpindahan besar-besaran pemain keturunan Indonesia ke kompetisi kasta tertinggi Indonesia Super League kini menjadi perbincangan hangat.

Banyak pihak menilai faktor finansial yang kompetitif membuat para pemain tersebut tidak lagi memprioritaskan jenjang karier.

Super League musim 2025/2026 tercatat mulai dihuni oleh banyak wajah baru berlabel pemain nasional Indonesia.

Persija Jakarta baru saja memberikan kejutan dengan meresmikan Mauro Zijlstra pada jendela transfer paruh musim ini.

Kehadiran Mauro menambah daftar panjang pemain elite di skuat Macan Kemayoran yang sebelumnya sudah mengamankan jasa pemain lain.

Shayne Pattynama yang selama ini menjadi pilar pertahanan Timnas Indonesia juga sudah resmi berseragam Persija.

Tidak berhenti di situ, tim kebanggaan warga Jakarta tersebut telah memiliki Jordi Amat sejak bergulirnya awal musim.

Persib Bandung tidak mau ketinggalan dalam memperkuat kedalaman tim dengan mendatangkan trio pemain keturunan berkualitas.

Thom Haye dan Eliano Reijnders sudah lebih dulu mengawali musim bersama Maung Bandung di bawah dukungan bobotoh.

Baca Juga: Punya 21 Caps Timnas Indonesia, Pemain Keturunan Rp 12,17 Miliar Cetak Gol Bantai Klub Filipina

Paling baru, manajemen Persib kembali memperkuat lini pertahanan mereka dengan meresmikan kedatangan pemain muda Dion Markx.

Dewa United juga menunjukkan ambisinya dengan mengamankan tanda tangan penyerang berbakat yaitu Rafael Struick.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Ivar Jenner kemungkinan besar akan menyusul masuk dalam skuat asuhan Jan Olde Riekerink.

Bali United juga berhasil memikat talenta muda masa depan lini serang Garuda yakni Jens Raven.

Penyerang produktif ini memutuskan untuk meniti kariernya di Indonesia dengan mengenakan jersey kebesaran Serdadu Tridatu.

Tren kepindahan ini memicu reaksi dari berbagai kalangan termasuk pengamat sepak bola senior di tanah air.

Kesit Budi Handoyo menyayangkan langkah para pemain diaspora yang memilih bermain di liga domestik Indonesia saat ini.

Beliau memandang bahwa keputusan berpindah ke klub lokal merupakan sebuah langkah mundur bagi perkembangan kualitas individu pemain.

"Kalau mau dikatakan apakah ini jadi kemunduran karier buat mereka, kalau menurut saya, ya suka tidak suka, itu kemunduran buat mereka," kata Kesit kepada Suara.com, Rabu (4/2/2026).

Sebelum memutuskan pindah ke Indonesia, mayoritas dari pemain-pemain tersebut memiliki pengalaman merumput di liga-liga Eropa.

Tercatat hanya Shayne Pattynama yang sebelumnya bermain di Asia Tenggara bersama klub raksasa Thailand, Buriram United.

Secara objektif kualitas kompetisi di negeri gajah putih masih dianggap berada di atas level sepak bola Indonesia.

Perbedaan standar ini menjadi semakin mencolok jika membandingkan liga lokal dengan iklim sepak bola di benua biru.

"Karena level dari kompetisi di mana para pemain diaspora ini saat ini bermain itu kan beda levelnya dengan kompetisi di Indonesia," tegasnya.

Kesit mengingatkan bahwa secara prestasi di level regional saja Indonesia masih tertinggal cukup jauh dari para pesaing.

Indonesia dinilai belum mampu menyaingi stabilitas dan kualitas liga yang dimiliki oleh negara seperti Thailand maupun Vietnam.

Kesenjangan kualitas yang lebar antara Eropa dan Indonesia membuat kepindahan ini sulit diterima dari sisi teknis olahraga.

"Kita di ASEAN saja masih kalah sama Thailand, iya kan? Kita masih kalah sama Vietnam. Jadi kalau di Eropa kan kita tahu kualitas kompetisinya memang sudah bagus."

Oleh sebab itu, perpindahan pemain dari luar negeri ke liga domestik dianggap sebagai sebuah degradasi profesionalitas secara kompetitif.

"Kalau kemudian para pemain diaspora Indonesia hijrah bermain di klub-klub Liga Indonesia, ya lagi-lagi menurut saya itu sebuah kemunduran," ia menambahkan.

Faktor jam terbang atau kesempatan bermain yang terbatas di klub lama ditengarai menjadi pemicu utama keputusan mereka.

Banyak dari pemain naturalisasi tersebut memang jarang mendapatkan posisi inti saat masih membela klub-klub di luar negeri.

Tawaran dari kontestan Super League menjadi sangat menarik karena mereka dijanjikan peran sentral dan waktu bermain reguler.

Klub-klub besar di tanah air juga berani merogoh kocek sangat dalam demi bisa mendatangkan pemain berlabel tim nasional.

Investasi besar ini dilakukan bukan hanya untuk urusan teknis di lapangan namun juga demi menaikkan nilai jual klub.

Popularitas pemain diaspora dipercaya mampu mendongkrak aspek komersial dan eksposur tim di mata para sponsor dan penggemar.

Kesit berpendapat bahwa pilihan ini sangat rasional bagi pemain yang ingin menyelamatkan karier dari bangku cadangan.

"Ya daripada menjadi cadangan, kemudian ada tawaran ke klub Indonesia, ya saya pikir itu akhirnya menjadi pilihan mereka," ucapnya.

Aspek ekonomi juga tidak bisa dikesampingkan mengingat nilai kontrak di Indonesia sering kali melampaui gaji di klub sebelumnya.

Keuntungan finansial yang stabil menjadi jaminan bagi masa depan pemain di tengah ketatnya persaingan di level internasional.

"Toh kalau dilihat dari penghasilan mungkin, kontrak dengan klub di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan klub asal mereka pada saat ini atau klub yang saat ini mereka huni," tutup Kesit.

Load More