Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 13 Februari 2026 | 10:36 WIB
Shayne Pattynama (IG Shayne Pattynama)
Baca 10 detik
  • Raja Isa menyoroti tren kepindahan pemain diaspora ke klub besar BRI Super League.

  • Persija dan Persib resmi mendatangkan pemain naturalisasi baru untuk memperkuat kedalaman skuad.

  • Menit bermain tetap ditentukan oleh performa lapangan dan kebutuhan taktik masing-masing pelatih.

Suara.com - Geliat bursa transfer BRI Super League 2025/2026 kini diwarnai dengan tren kepulangan para pemain diaspora.

Langkah ini mendapatkan sorotan tajam dari Raja Isa yang merupakan pengamat sekaligus pelatih asal Malaysia.

Ia mengamati adanya perubahan pola karier pemain naturalisasi muda yang sebelumnya meniti jalan di Eropa.

Banyak nama besar kini justru memilih untuk merumput di tanah air demi mencari tantangan baru.

Perpindahan ini menciptakan suasana kompetisi yang jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya di Indonesia.

Persija dan Persib Perkuat Skuad

Persija Jakarta bergerak agresif dengan mengamankan tanda tangan bek Shayne Pattynama serta penyerang Mauro Zijlstra.

Tidak ingin tertinggal, Persib Bandung juga meresmikan kedatangan Dion Markx dan memulangkan gelandang Ivan Jenner.

Kehadiran empat pemain tersebut mempertegas daya tarik liga domestik bagi para penggawa Timnas Indonesia.

Baca Juga: Pelatih Malaysia Bicara Fenomena Pemain Diaspora di Super League: Plus di Bisnis, Minus di Karier?

Gelombang kedatangan ini sebenarnya sudah dimulai oleh Rafael Struick dan Jens Raven pada periode sebelumnya.

Saat ini Struick membela Dewa United, sedangkan Raven memilih untuk berseragam Bali United di kompetisi tersebut.

Tantangan Menit Bermain Diaspora

Meskipun menyandang status pemain tim nasional, menit bermain mereka di liga ternyata masih sangat terbatas.

Data mencatat Rafael Struick hanya tampil selama 325 menit dalam 10 laga liga domestik musim ini.

Ia juga sempat bermain 67 menit di ajang AFC Challenge League dan berhasil menyumbangkan satu gol.

Load More