- Manchester City didakwa atas 115 pelanggaran finansial sejak Februari 2023; sidang telah selesai pada Desember 2024.
- Mantan eksekutif liga memprediksi hukuman pengurangan poin besar, bahkan mencapai 60 poin, jika terbukti bersalah.
- Skala kasus City jauh lebih besar dibanding kasus sebelumnya, namun sanksi degradasi penuh mungkin di luar wewenang liga.
Suara.com - Kasus 115 pelanggaran finansial yang menjerat Manchester City di Premier League kembali menjadi sorotan.
Seorang mantan eksekutif liga menyebut hukuman pengurangan poin besar bisa menjadi skenario paling realistis jika klub dinyatakan bersalah.
Manchester City pertama kali didakwa melakukan 115 pelanggaran aturan keuangan pada Februari 2023.
Beberapa tuduhan juga berkaitan dengan regulasi UEFA, bahkan jumlah sebenarnya disebut mendekati 130 pelanggaran.
Klub asuhan Pep Guardiola itu terus membantah semua tuduhan. Sidang publik selama delapan minggu bahkan telah digelar antara Oktober hingga Desember 2024.
Namun hingga kini, putusan resmi belum diumumkan. Padahal sebelumnya vonis diperkirakan keluar menjelang akhir musim lalu.
Mantan CEO Everton, Keith Wyness, menilai hukuman pengurangan poin besar bisa saja terjadi. Ia bahkan menyebut angka 60 poin sebagai kemungkinan yang masuk akal.
“Jika mereka dinyatakan bersalah atas pelanggaran paling serius, pengurangan sekitar 60 poin terasa masuk akal,” kata Wyness dalam podcast Inside Track.
“Saya pikir itu bisa menjadi sesuatu yang mungkin diterima Manchester City.”
Baca Juga: Pelatih Brighton Tuding Arsenal Lakukan Cara Haram untuk Raih Kemenangan
Meski begitu, ia menilai proses hukum tidak akan berhenti di situ.
“Tentu saja akan ada banding, apa pun putusannya. Jika hukumannya 60 poin, kemungkinan besar angka itu juga bisa berkurang setelah banding,” ujarnya.
Pendapat serupa juga disampaikan mantan direktur Aston Villa dan Liverpool, Christian Purslow.
Ia mengatakan hakim akan melihat preseden hukuman sebelumnya.
“Dalam kasus seperti ini, hakim akan melihat preseden,” kata Purslow.
“Sanksi olahraga biasanya berupa pengurangan poin besar, yang pada akhirnya bisa berujung degradasi.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Jadi Pahlawan Saat Tahan Imbang Persija, Kiper PSIM Yogyakarta Memilih Merendah
-
Namanya Jawa Banget, Rekan Justin Hubner di Belanda Bisa Bela Timnas Indonesia?
-
Rapor Impresif Sandy Walsh di ACL Elite, Agresif dan Berbahaya
-
Gelar Juara Semakin Menjauh, Mauricio Souza Bakal Evaluasi Pemain-pemain Persija
-
Bocor! Surat Pemanggilan TC Piala AFF 2026: Eksel Runtukahu Dipanggil Perdana
-
Beda Nasib Pemain Timnas di Inggris: Elkan Baggott Menuju Premier League, Ole Romeny Degradasi?
-
Arsenal vs Newcastle: Statistik Memihak The Gunners tapi The Magpies Siap Jadi Mimpi Buruk
-
Rentetan Cedera Kevin Diks Jadi Sorotan, Pelatih Monchengladbach Soroti Beban Kerja Tinggi
-
Rumor: Klub Raksasa Polandia Tertarik Boyong Dony Tri Pamungkas
-
Arsenal dan Atletico Madrid Bersaing Rekrut Julian Brandt