- Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadapi tantangan logistik besar dengan format 48 peserta.
- Otoritas New York dan New Jersey menyelidiki FIFA terkait tingginya harga tiket yang membebani finansial para penonton.
- Turnamen ini menghadapi risiko cuaca ekstrem di stadion serta ketegangan politik yang membatasi kehadiran pendukung tim Iran.
Suara.com - Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diprediksi menjadi salah satu turnamen paling kontroversial dalam sejarah.
Alih-alih disambut euforia, turnamen ini justru dibayangi isu harga mahal, cuaca ekstrem, hingga tensi politik global.
Sebagai ajang olahraga terbesar di dunia, Piala Dunia biasanya identik dengan antusiasme tinggi.
Namun kali ini, atmosfer menjelang turnamen terasa berbeda dan tidak sepenuhnya mencerminkan kemeriahan yang diharapkan.
Turnamen edisi 2026 akan menjadi yang pertama dengan 48 peserta dan digelar di 16 kota.
Format baru ini memang menjanjikan skala yang lebih besar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Salah satu sorotan utama adalah biaya yang sangat tinggi bagi penonton.
Di New York, misalnya, dua malam menginap di hotel dan satu tiket pertandingan bisa mencapai sekitar 2.000 dolar AS, belum termasuk biaya transportasi.
Ironisnya, pertandingan tidak digelar di pusat kota New York, melainkan di New Jersey.
Baca Juga: Merendah, Casemiro Sebut Brasil Bukan Favorit di Piala Dunia 2026
Harga tiket transportasi pun melonjak drastis hingga 98 dolar AS, lebih dari tujuh kali lipat harga normal.
Kondisi ini memicu penyelidikan dari otoritas New York dan New Jersey terhadap FIFA.
Jaksa New York menilai harga tiket yang ditetapkan terlalu tinggi dan berpotensi merugikan penggemar.
“FIFA telah mengubah pembelian tiket menjadi proses yang membingungkan dengan kelangkaan semu dan harga yang sangat tinggi,” ujar Jaksa Agung New Jersey, Jennifer Davenport.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, membela kebijakan tersebut dengan menyebut harga tiket mencerminkan permintaan pasar.
Infantino mengklaim ada sekitar 500 juta permintaan tiket untuk turnamen ini.
Berita Terkait
-
Merendah, Casemiro Sebut Brasil Bukan Favorit di Piala Dunia 2026
-
Daftar Lengkap 183 Pemain Premier League Siap Unjuk Gigi di Piala Dunia 2026
-
Jorge Campos, Kiper Ikonik Piala Dunia yang Mendobrak Batas dan Tampil Nyentrik
-
Rekor Gol Babak Knockout Piala Dunia: Kylian Mbappe Sejajar dengan Ronaldo Nazario
-
Berhitung Daya Gedor Ragnar Oratmangoen dan Marselino Ferdinan Lawan Oman dan Mozambik
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Usai OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Resmi Ditahan KPK
-
3 Rekomendasi Moisturizer untuk Mengecilkan Pori-Pori, Wajah Mulus dan Glowing
-
Di Balik Hibah Kapal Induk Italia, Ada Ambisi Kejar Tayang 5 Oktober yang Bisa Sedot Anggaran Jumbo
-
Resmi Pakai Rompi Oranye KPK, Bupati Lombok Barat Bungkam Soal 3 Perkara yang Menjeratnya
-
4 Hydrating Sheet Mask Ampuh Berikan Hidrasi Ekstra untuk Skin Barrier Kuat
-
Keluh Kesah PPPK Paruh Waktu Dinkes DKI di Balai Kota: Janji Setara ASN, Realita Jauh dari Kata
-
Pabrik Tekstil di Jepara Tumbang, 670 Orang Menganggur
-
Ironi Makan Bergizi Gratis: Mengapa Daerah 3T Masih Dianaktirikan?
-
Jangan Jerat Tersangka saja, Komnas HAM Dorong Korban Dapat Pemenuhan Hak Atas Pidana Korupsi
-
Gelar Sarjana vs AI: Menagih Aksi Pemerintah Atasi Krisis Kerja Gen Z