-
Timnas Indonesia bermain imbang tanpa gol 0-0 saat berhadapan dengan Malaysia.
-
Coach Justin mengkritik peran Thom Haye yang terlalu dibebani tugas bertahan.
-
Tim Garuda dinilai butuh variasi serangan tengah dan kebebasan peran untuk Haye.
Suara.com - Kegagalan Timnas Indonesia menundukkan Malaysia pada laga Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 berakar dari ketidakmampuan memaksimalkan potensi utama Thom Haye. Sang gelandang kreatif justru dibebani tugas bertahan hingga menguras energi dan mengorbankan alur serangan.
Keputusan taktis tersebut membuat kreativitas lini tengah Skuad Garuda tumpul sepanjang 90 menit pertandingan. Pengamat sepak bola nasional, Coach Justin, menilai tim pelatih salah menyusun peran ideal bagi pemain bernomor punggung tersebut.
Pendekatan ini sangat merugikan tim karena kemampuan destruktif pertahanan bukanlah keunggulan alami seorang pengatur serangan murni. Haye justru terlihat kepayahan setelah terus dipaksa mengejar bola di seluruh area lapangan.
"Yang bikin gua benar-benar shock, itu ngelihat Thom Haye main, kita tahu Thom Haye semua, ia satu-satunya pemain kita yang menurut gua sangat kreatif, ibarat Bruno Fernandes-nya timnas kita," ujar Coach Justin dalam kanal Youtube Pribadinya.
"Kalau elu punya pemain kayak Bruno Fernandes, artinya apa? Lu harus manfaatkan kelebihan dia, crossing, passing, assist dan visi bermain, bukan lari kiri kanan," pungkasnya.
Inovasi taktik yang terlalu membebani stamina Haye berpotensi merusak daya tahan fisiknya hingga akhir laga. Kebutuhan tim saat ini adalah memanfaatkan visi bermain serta ketajaman umpan silang milik sang pemain.
Instruksi untuk melakukan tekanan tinggi dinilai tidak sesuai dengan profil dan karakter sang jenderal lapangan tengah. Dampaknya, distribusi bola menuju lini depan menjadi tersendat dan kurang bervariasi.
"Gua ngelihat Thom Haye main, semua bola dia uber, dia coba nge-press dan lain-lain, berusaha untuk memberikan kontribus," tuturnya.
"Itu bukan Thom Haye yang kita kenal, gua tanya, apakah dia bisa main 90 menit kayak begini? ya pasti nggak," lanjutnya.
Keterbatasan variasi di sektor tengah membuat pola serangan anak asuh Garuda mudah diantisipasi benteng pertahanan lawan. Tim Garuda terlalu bergantung pada skema umpan silang dari sektor sayap yang kerap membuang peluang.
Jarak antar lini yang terlalu renggang menjadi kendala utama dalam membangun skema serangan balik yang cepat dan mematikan. Koordinasi antar pemain butuh pembenahan total agar aliran bola dari tengah kembali hidup.
Kehadiran sosok pengatur serangan langka seperti Haye seharusnya dibarengi dengan skema permainan yang memberikan kebebasan berkreasi. Mengunci sang pemain dalam tugas bertahan hanya akan mematikan potensi insting menyerangnya.
"Lu butuh variasi dari sisi serangan, terutama dari tengah, jaraknya itu terlalu jauh," tuturnya.
"Gua akan perlakukan Bruno Fernandes zamannya Ole dari awal, zamannya Ole dari awal, Bruno lu mau main dimana? belakang striker, oke lu beri kebebasan, semua bola ke elu, kasarnya begitu," ujarnya.
"Seharusnya seperti itu, karena pemain seperti Thom Haye ini langka, benar-benar tidak dimanfaatkan cara dia bermain," pungkas Coach Justin.
Laga sengit antara Timnas Indonesia kontra Malaysia yang berakhir tanpa gol 0-0 berlangsung pada Senin (28/9/2026). Pertandingan lanjutan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 tersebut menjadi sorotan publik akibat kebuntuan lini serang Garuda.
Hasil imbang ini memaksa jajaran pelatih melakukan evaluasi mendalam terkait efektivitas strategi dan peran para pemain kunci. Pembenahan taktik di sektor tengah menjadi agenda mendesak demi menjaga peluang melangkah lebih jauh di turnamen ini.