-
Shin Tae-yong kesulitan menilai performa lima pemain Persija akibat minim menit bermain di Timnas.
-
Jordi Amat dan Nadeo Argawinata bahkan tidak mendapatkan kesempatan tampil sama sekali selama turnamen.
-
Waktu bermain yang singkat dinilai menyulitkan pemain mencapai kondisi fisik dan ritme terbaiknya.
Suara.com - Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong mengaku kesulitan memberikan penilaian terhadap lima anak asuhannya yang baru saja membantu Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Ini karena kelimanya minim menit tampil.
Kelima pemain tersebut adalah Rizky Ridho, Rayhan Hannan, Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Nadeo Argawinata.
Kelima pemain itu menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia yang berhasil mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti pada final di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026).
Namun, tidak semua pemain Persija tersebut mendapatkan kesempatan bermain secara reguler selama turnamen.
Rizky Ridho menjadi pemain yang paling sering tampil. Bek 24 tahun itu bermain dalam empat pertandingan, tetapi hanya sekali dipercaya sebagai starter.
Ridho mengoleksi total 139 menit bermain dan turut menyumbangkan satu gol untuk Timnas Indonesia.
Sementara itu, Rayhan Hannan dua kali masuk sebagai pemain pengganti dan hanya mencatatkan 26 menit bermain.
Shayne Pattynama juga mendapat kesempatan tampil sebagai pemain pengganti dengan total 19 menit berada di lapangan.
Kemudian Jordi Amat dan Nadeo Argawinata tidak mendapatkan kesempatan tampil karena ketatnya persaingan di skuad Timnas Indonesia.
Situasi tersebut menjadi alasan Shin Tae-yong merasa kesulitan memberikan penilaian secara menyeluruh terhadap lima pemain Persija tersebut.
"Kalau ada pemain yang bermain, baru bisa saya menilainya. Hampir tidak ada yang bisa bermain," kata Shin Tae-yong sebelum memimpin latihan Persija di Persija Training Ground, Depok, Rabu (7/10/2026).
Shin Tae-yong secara khusus menyoroti minimnya waktu bermain Rayhan Hannan. Menurutnya, pemain membutuhkan waktu untuk menemukan ritme permainan dan mencapai kondisi fisik terbaik ketika baru masuk sebagai pemain pengganti.
"Hannan itu bermain hanya sebentar, bagaimana bisa bilang begitu? Baru mau mencapai kondisi napas yang maksimal, pertandingan sudah berakhir," jelasnya.
Pelatih asal Korea Selatan tersebut kemudian menjelaskan bahwa kondisi serupa membuat kontribusi pemain sulit dinilai secara maksimal.
"Itu bagian yang paling sulit. Di antara pemain kami, tentu para wartawan menonton pertandingannya," tutur Shin Tae-yong.
"Tetapi sebenarnya ketika seorang pemain masuk sekitar 10 menit terakhir, justru pada saat itulah tubuh mulai mencapai kondisi maksimal dan napas mulai terbuka, tetapi pertandingan sudah berakhir. Itulah bagian yang paling sulit," pungkasnya.