- North London Legends mengalahkan United Legends dengan skor 3-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu malam.
- Pelatih Thierry Henry menerapkan strategi penguasaan bola dan kerapatan formasi untuk mengatasi keterbatasan fisik pemain serta cuaca lembap.
- Gol dari Emmanuel Adebayor, Santi Cazorla, dan Jermaine Pennant memastikan kemenangan tipis bagi tim asuhan Thierry Henry tersebut.
Suara.com - Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, menjadi saksi pertemuan North London (Arsenal) Legends dan United (Manchester United) Legends dalam laga ekshibisi bertajuk "Champions Impact In Jakarta: The Rivalry Returns", Sabtu (10/10/2026) malam WIB.
North London Legends yang dipimpin Thierry Henry berhasil mengalahkan United Legends dengan skor 3-2. Pertandingan tersebut berlangsung kompetitif meski mempertemukan para mantan pemain yang pernah meramaikan persaingan Liga Inggris.
Henry, yang kali ini berperan sebagai pelatih, mengandalkan pengaturan tempo dan kerapatan formasi untuk membantu timnya menghadapi keterbatasan fisik para pemain yang tak lagi berada di masa puncak karier.
Thierry Henry Atur Strategi Sesuai Kondisi Pemain
Henry menyadari bahwa faktor usia memengaruhi daya tahan fisik para pemain. Karena itu, ia meminta anak asuhnya mengatur tenaga dan memahami kondisi tubuh masing-masing selama pertandingan.
"Ini soal mendengarkan kondisi tubuh Anda, yang sayangnya menjadi kendala bagi kami di usia sekarang."
"Kami mencoba mencari tahu siapa yang bisa berlari membuka ruang di belakang, siapa yang bisa menahan bola, dan siapa yang bisa bertahan," kata Henry.
Cuaca Jakarta yang lembap juga menjadi tantangan bagi kedua tim. Henry menilai para pemain perlu menjaga organisasi permainan dan menghindari pergerakan yang menguras tenaga tanpa tujuan jelas.
Penguasaan Bola Jadi Kunci Permainan
Henry menekankan pentingnya menjaga penguasaan bola agar timnya tidak mudah terkena serangan balik. Menurutnya, kehilangan bola dapat membuat formasi melebar dan memberi lawan ruang untuk menyerang.
"Namun fokus utamanya adalah jangan kehilangan bola."
"Karena dalam laga seperti ini, saat Anda kehilangan bola dan permainan mulai merenggang, situasinya akan menjadi terlalu terbuka," tambah dia.
Ia juga mengakui para pemain masih memiliki kemampuan membaca permainan dan menemukan ruang kosong. Namun, kondisi fisik serta cuaca membuat tim harus menjaga jarak antarpemain agar tetap kompak.
"Mereka bertahan dengan sangat baik, tetapi terkadang Anda masih tergiur oleh ruang kosong untuk maju."
"Saya paham temponya mungkin tidak secepat yang ingin Anda saksikan, tapi udara di luar sana sangat lembap dan orang-orang ini sudah tidak bisa berlari seperti dulu lagi, jadi kami harus menjaga kerapatan formasi tim," kata dia.