Terbentur Modal, UMKM Sulam Kasab Aceh Bangkit Berkat PNM Mekaar dan BRI

Minggu, 20 September 2026 | 20:20 WIB
BRI dan PNM dukung ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) [BRI]
BACA 10 DETIK
  • Sejak tahun 1990-an di Kuala Baru Aceh, perempuan bernama Asra konsisten menekuni kerajinan sulam kasab tradisional secara manual.
  • Usaha sulam kasab milik Asra sempat menghadapi tantangan klasik berupa keterbatasan permodalan untuk pengadaan bahan baku produksi.
  • Pada tahun 2020, Asra bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar guna memperkuat perekonomian dan mempertahankan kelestarian budaya.

Suara.com - Modernisasi dan masifnya produk hasil produksi industri massal telah mengubah lanskap konsumsi masyarakat urban maupun rural. Dinamika ini menghadirkan tantangan eksistensial bagi produk kerajinan tradisional yang mengandalkan pengerjaan manual.

Proses produksi yang memerlukan waktu panjang, penguasaan keterampilan khusus, serta tingkat ketelitian yang presisi membuat regenerasi perajin tradisional semakin meredup, karena tidak banyak generasi muda yang bersedia meneruskan warisan tradisi tersebut.

Namun, pelestarian kerajinan tradisional sejatinya melampaui urusan komersial; di dalamnya terdapat ruh warisan budaya, keterampilan kearifan lokal, dan identitas otentik suatu daerah yang wajib direkam dan dikenalkan kepada generasi penerus.

Kesadaran akan pentingnya menjaga identitas budaya inilah yang menggerakkan Asra, seorang perempuan tangguh berusia 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh.

Sejak dekade 1990-an, ia memilih jalan sunyi untuk terus konsisten menekuni usaha sulam kasab. Kerajinan khas Tanah Rencong ini murni dikerjakan dengan sentuhan tangan melalui tahapan proses yang sangat rumit dan menuntut tingkat kesabaran yang luar biasa dari sang pembuatnya.

“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudahmenjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkanketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasabdaripada membuatnya sendiri,” ungkap Asra.

Menangkap pergeseran perilaku masyarakat tersebut, Asra melihat sebuah peluang sekaligus panggilan untuk mempertahankan tradisi. Ia mulai menawarkan keahliannya secara proaktif dengan menerima pesanan dari rumah ke rumah.

Keterampilan menyulam yang pada mulanya ia jalankan sekadar untuk mengisi waktu luang di sela-sela aktivitas utamanya sebagai ibu rumah tangga, perlahan bertransformasi menjadi tulang punggung yang secara signifikan membantu menopang perekonomian keluarga.

Sulam manik-manik kasab memiliki metodologi pengerjaan yang tidak dapat disederhanakan oleh mesin. Setiap helai produk dibuat murni dengan tangan manusia dan membutuhkan jam terbang serta keterampilan khusus. Tarikan benang emas atau perak pada kain dasar harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar konfigurasi pola yang dihasilkan terlihat rapi, simetris, dan mewah.

Pengerjaannya mutlak tidak dapat diselesaikan secara terburu-buru. Tingkat ketelitian dan kesabaran menjadi fondasi terpenting, mengingat satu kesalahan kecil pada sebuah simpul dapat merusak estetika dan memengaruhi keseluruhan hasil akhir dari mahakarya kerajinan tersebut.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikanbenang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-burukarena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” tutur Asra.

Perjalanan panjang Asra dalam mempertahankan warisan budaya ini menemui titik balik ketika ia menghadapi kendala klasik UMKM, yakni keterbatasan permodalan. Pada tahun 2020, ia mengambil langkah strategis dengan bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar—bagian dari ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) yang diinisiasi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Integrasi pembiayaan ini memberikan napas baru bagi Asra untuk mengamankan bahan baku dan terus memproduksi karya seni sulam kasab yang otentik.

Dengan hadirnya akses finansial yang mudah dan terarah, karya sulam kasab buatan Asra kini tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai simbol kebanggaan budaya Aceh di tengah arus modernisasi yang tak terbendung.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com