/
Jum'at, 12 Agustus 2022 | 14:13 WIB
ilustrasi mi instan (pixabay)

Deli.Suara.com - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin mengatakan sejak operasi militer Rusia ke Ukraina, harga gandum memang mengalami kenaikan yang cukup signifikan, hampir dua kali lipat kenaikannya. 

"Harga gandum yang sempat berada dikisaran 780-an US Dolar per bushel, meroket hingga mendekati 1.300 US Dolar per bushel hanya dalam kurun waktu sekitar dua bulan," ujarnya seperti dikutip dari suarasumut.id, Jumat (12/8/2022).

Dikhawatirkan hal ini berdampak pada kenaikan harga produk turunan dari gandum seperti mie instan, tepung, biskuit, roti dan sejumlah produk turunan lainnya. 

"Kalau untuk roti sendiri, harganya sudah mengalami kenaikan sekitar 15% di bulan juni lalu. Dan kalaupun ada rencana kenaikan harga produk mie instan yang mencapai 3 kali lipat, saya pikir masuk akal," ungkap Gunawan.

Meski begitu Gunawan menyampaikan rencana menaikkan harga mi instan sebesar 3 kali lipat tidak akan dilakukan jika menimbang fluktuasi pada harga gandum tersebut. 

"Saya sangat yakin dengan fluktuasi pada harga gandum belakangan ini, perusahaan mi instan tidak akan lantas dengan mudah menaikkan harga," ungkapnya.

Ditambah lagi, kata Gunawan produsen mi instan di tanah air ada banyak, jadi tidak mudah menaikkan harga jual kalau yang lainnya justru tidak melakukan. 

"Saya perkirakan kalaupun harga mie instan ini naik, kenaikannya tidak akan sampai 3 kali lipat," jelasnya.

Ia mengatakan dampak dari kenaikan harga mi instan ini memang cukup besar mempengaruhi pengeluaran masyarakat

Baca Juga: BMKG Pantau 52 Titik Panas Rawan Karhutla di Sumut, Ini Lokasinya

"Karena konsumsi mie instan ini cukup besar di indonesia, yakni sekitar 170 bungkus per kapita per tahun," pungkasnya.

Load More