SUARA DENPASAR – Fenomena orang kaya masih mencuri barang-barang yang sebetulnya dia bisa membayar kerap ditemukan. Seperti kasus Mariana, wanita bermobil Mercy yang mencuri hanya tiga bungkus cokelat dan dua sampo di Alfamart Sampora, Tangerang Selatan.
Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Sarly Sollu menyebut Mariana memiliki kelainan, namun bukan orang dalam gangguan jiwa (ODGJ). Karena itu, kasus ini dihentikan setelah kedua pihak, pelapor dan terlapor, berdamai. Pelapor pun mencabut laporan.
"Kita ketahui bahwa keterangan daripada keluarganya ataupun suaminya, bahwa memang terlapor Ibu M ini memang sedikit ada kelainan tetapi bukan orang dalam gangguan jiwa. Jadi ada kebiasaan-kebiasaan yang mungkin sedikit unik," jelas dia.
Sarly tak menyebut kelainan apa yang diidap Mariana. Namun, santer di media sosial bahwa tindakan yang dilakukan Mariana terkait dengan kleptomania. Bahkan, kata klepto sempat trending di Twitter viral video pencurian Mariana yang berujung pada video ancaman UU ITE terhadap karyawan Alfamart Amelia disertai permintaan maaf.
Kleptomania sendiri terdiri dari dua kata. Klepto berarti mencuri, dan mania artinya kegilaan. Dengan demikian, klepto mania bisa dikatakan berarti kegilaan akan pencurian.
Dilansir dari suara.com dari Mayo Clinic, Kleptomania adalah ketidakmampuan berulang untuk menahan dorongan untuk mencuri barang-barang yang biasanya tidak terlalu Anda butuhkan dan biasanya memiliki nilai yang kecil.
“Kleptomania adalah gangguan kesehatan mental yang langka namun serius yang dapat menyebabkan banyak rasa sakit emosional pada Anda dan orang yang Anda cintai jika tidak diobati,” demikian penjelasannya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa kleptomania adalah jenis gangguan kontrol impuls - gangguan yang ditandai dengan masalah dengan kontrol diri emosional atau perilaku. Maka, jika seseorang memiliki gangguan kontrol impuls, maka akan mengalami kesulitan menahan godaan atau dorongan untuk melakukan tindakan yang berlebihan atau berbahaya baginya atau orang lain.
Banyak orang dengan kleptomania menjalani kehidupan dengan rasa malu yang tersembunyi karena mereka takut untuk mencari perawatan kesehatan mental.
Baca Juga: Sontoloyo, Kasat Narkoba Karawang Malah Jualan Sabu! Pak Kapolri, Tolong Dihukum Berat
Meski tidak ada obat untuk kleptomania, pengobatan dengan pengobatan atau terapi bicara (psikoterapi) dapat membantu mengakhiri siklus pencurian kompulsif.
Lebih lanjut, dilansir dari alodoc.com, kleptomania akan berlangsung terus-menerus jjika tidak ditangani secara medis. Juga tidak bisa diatasi seorang diri. Untuk itu, dalam menangani gangguan ini, dokter dapat menggunakan psikoterapi, pemberian obat-obatan, atau kombinasi keduanya.
Jenis psikoterapi yang digunakan untuk menangani kleptomania biasnaya terapi perilaku kognitif (pengetahuan). Melalui terapi ini, pasien akan diberi gambaran terkait perbuatan yang dilakukan dan akibat yang mungkin diterima, termasuk berurusan dengan pihak berwajib.
Harapanya, dengan ini, pasien termotivasi untuk tidak mencuri lagi. Melalui terapi ini, pasien juga diajarkan untuk melawan keinginan kuat untuk mencuri, contohnya dengan teknis relaksasi.
Sedangkan pemberian obat-obatan, dokter bisa memberikan resep obat agar serotonin bekerja lebih efektif dan menstabilkan emosi pasien seperti antidepresan. Juga menggunakan obat antagonis opioid untuk menurunkan dorongan mencuri dan rasa senang yang timbul setelah mencuri.
Yang jelas, kleptomania harus ditangani secara berkelanjutan agar tidak kambuh. Jika gejala sudah membaik tetapi timbul keinginan untuk mencuri lagi tetap harus segera menemui dokter kembali. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Netanyahu Siap Gunakan Bom Nuklir? Eks Kolonel AS Lawrence Wilkerson Bongkar Skenario Kiamat Iran
- 10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
- 35 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 11 Maret 2026: Klaim MP40, Diamond, dan Sayap Ungu
Pilihan
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
Terkini
-
5 Tips Tetap Bugar Meski Puasa Saat Menyetir Jarak Jauh saat Mudik Lebaran
-
Ahn Hyo Seop Akan Hadiri Oscar Pertamanya Berkat KPop Demon Hunters
-
5 Rekomendasi Deodoran Tahan Lama, Anti Bau untuk Silaturahmi Lebaran
-
Dari THR ke Gadget Baru: Menemukan Hadiah Diri yang Pas di Bulan Ramadan
-
Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman dan Rombongan Pejabat Dibawa KPK ke Jakarta Naik Kereta
-
BRI Gandeng Yakult Lady: Digitalisasi Transaksi UMKM dan Dukungan Kesejahteraan Melalui QRIS
-
BRI Siaga Lebaran 2026: Kantor Cabang, BRImo, hingga Agen BRILink Siap Layani Nasabah
-
BRI Pastikan Akses Perbankan Tetap Mudah Selama Libur Idul Fitri 2026
-
Transaksi Tetap Lancar Saat Libur Lebaran, BRI Andalkan BRImo dan Jaringan ATM Nasional
-
BRI Optimalkan 186 Kantor Cabang dan Ekosistem Digital untuk Layanan Lebaran